Jum'at, 19 Zulhijjah 1447 H / 5 Juni 2026 15:19 wib
107 views
Nikmat Cinta Allah di Dunia Menuju Nikmat Melihat-Nya di Akhirat
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Dalam pandangan Islam, kebahagiaan sejati di dunia tidak hanya diukur dari banyaknya kenikmatan materi yang ada di tangan seseorang, tetapi dari kualitas cinta yang bersemayam di dalam hatinya.
Ibnul Qayyim dalam kitab monumental Al-Jawabul Kafi (atau dikenal juga dengan Ad-Da' wad Dawa') menjelaskan bahwa kesempurnaan kenikmatan bergantung pada dua hal: kesempurnaan objek yang dicintai dan kesempurnaan cinta kepada objek tersebut.
Semakin besar cinta seseorang kepada sesuatu, semakin besar pula kebahagiaan yang ia rasakan ketika memperoleh kedekatan dengannya. Jika kita mencintai makhluk—yang dasarnya penuh dengan kekurangan dan keterbatasan—kita sudah bisa merasakan kesenangan yang besar. Maka bayangkan jika cinta itu ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jika demikian, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Dzat Yang Mahasempurna, Mahaindah, dan paling layak dicintai menjadi sumber kebahagiaan tertinggi bagi seorang mukmin. Mengenal Allah, mencintai-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya merupakan kenikmatan terbesar yang dapat dirasakan manusia selama hidup di dunia.
Dalam kitabnya ini, Ibnul Qayyim juga mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan dunia bersifat sementara dan tidak pernah sempurna. Harta, kedudukan, popularitas, maupun berbagai kesenangan lainnya tidak akan bertahan selamanya. Sebaliknya, kenikmatan akhirat bersifat kekal, murni, dan bebas dari segala kesedihan. Karena itu, seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana menuju kebahagiaan abadi di akhirat.
Sesungguhnya puncak kenikmatan di akhirat bukanlah istana, sungai, atau berbagai fasilitas surga lainnya, melainkan kesempatan untuk melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam berbagai hadits disebutkan bahwa tidak ada anugerah yang lebih dicintai penghuni surga daripada memandang wajah Allah Yang Mahamulia. Bahkan, ketika Allah menampakkan diri kepada mereka, kebahagiaan yang dirasakan melampaui seluruh kenikmatan yang sebelumnya mereka nikmati.
Disebutkan dalam hadits tentang melihat Allah (ru'yatullah) yang diriwayatkan dalam al-Sahih:
فَوَاللَّهِ مَا أَعْطَاهُمْ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَيْهِ
"Demi Allah, Allah tidak memberikan kepada mereka suatu kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada memandang-Nya."
Dalam hadits lain disebutkan:
إِنَّهُ إِذَا تَجَلَّى لَهُمْ وَرَأَوْهُ نَسُوا مَا هُمْ فِيهِ مِنَ النَّعِيمِ
"Apabila Allah menampakkan diri kepada mereka dan mereka melihat-Nya, mereka pun melupakan seluruh kenikmatan yang sedang mereka rasakan."
Dalam riwayat An-Nasa'i dan Musnad Ahmad, dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘anhu., Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu yang mulia dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu."
Dalam Kitab As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, terdapat riwayat marfu' yang menyatakan:
كَأَنَّ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمْ يَسْمَعُوا الْقُرْآنَ قَطُّ، فَإِذَا سَمِعُوهُ مِنَ الرَّحْمَنِ فَكَأَنَّهُمْ لَمْ يَسْمَعُوهُ قَبْلَ ذَلِكَ
"Seakan-akan manusia pada hari kiamat belum pernah mendengar Al-Qur'an sebelumnya. Ketika mereka mendengarnya langsung dari Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih), seakan-akan mereka belum pernah mendengarnya sama sekali."
Nikmat Melihat Allah di Akhirat dan Kehidupan Hamba di Dunia
Sesungguhnya nikmat melihat Allah di akhirat memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan seorang hamba di dunia. Semakin dalam pengenalan seseorang kepada Allah dan semakin besar cintanya kepada-Nya, semakin besar pula kerinduannya untuk bertemu dengan-Nya.
Cinta kepada Allah ini merupakan sumber ketenangan jiwa, kebahagiaan hati, dan kekuatan ruhiyah (spiritual) yang menjadi "surga dunia" bagi orang-orang beriman.
Bagi seorang mukmin, yang paling nikmat di dunia adalah mengenal dan mencintai Allah, sedangkan yang paling nikmat di surga adalah melihat dan menyaksikan-Nya. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!