Sabtu, 27 Rabiul Akhir 1448 H / 10 Oktober 2026 17:55 wib
75 views
Dr. Akmal Sjafril: Mari Kembali Mengagumi Ajaran Tauhid
BANDUNG (voa-islam.com) - “Saking terbiasanya (kita sama Islam), sampai nggak merasakan lezatnya tauhid. Ketika ada (konsep Tuhan) yang lain, langsung terperangah.” Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Dr. Akmal Sjafril, di Masjid Istiqamah dalam pertemuan kelima SPI Bandung Angkatan ke-12 pada Kamis (8/10/2026).
Dalam pertemuan bertajuk Tauhidullah tersebut, Akmal menjelaskan bahwa konsep Tuhan menjadi inti worldview yang memengaruhi cara manusia memahami realitas dan menjalani kehidupan. Murid SPI diajak membandingkan tauhid dengan sejumlah konsep ketuhanan untuk kembali menyadari keunggulan tauhid yang luput dirasakan karena telah dikenal sejak kecil.
Salah satu perbandingan yang disajikan oleh Doktor Ilmu Sejarah tersebut adalah gambaran Zeus sebagai dewa terkuat dalam mitologi Yunani. Meskipun menyandang kedudukan tersebut, Zeus tetap digambarkan memiliki keterbatasan dan berbagai sisi gelap. Ia dikisahkan menelan istrinya karena takut anak yang dilahirkan akan menandingi kekuatannya, menikahi saudara perempuannya setelah melakukan rudapaksa, serta memiliki kekasih laki-laki berusia remaja.
Menurut Akmal, pertanyaan para pemikir Yunani terhadap kisah para dewa tidak lahir dari sikap kritis, melainkan adanya krisis kepercayaan dalam masyarakat saat itu. “Masa sih, dewa kayak manusia?” ujarnya menirukan kegelisahan para filsuf terhadap dewa yang digambarkan dikuasai ketakutan dan hawa nafsu. Krisis terhadap mitologi yang diwariskan tersebut menjadi salah satu konteks berkembangnya filsafat Yunani dalam mencari penjelasan mengenai Tuhan dan realitas yang dianggap lebih masuk akal. Bagi seorang Muslim, konteks ini penting dipahami karena pencarian para filsuf Barat berangkat dari konsep ketuhanan yang bermasalah, sedangkan tauhid telah mengenalkan Allah bukan sebagai Tuhan yang paling kuat di antara tuhan-tuhan lainnya, melainkan sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Kuasa dan tidak memiliki kelemahan yang membatasi kekuasaan-Nya. Dengan memahami konteks sejarah tersebut, seorang Muslim tidak akan mudah terperangah oleh pemikiran Yunani seolah-olah Islam belum memiliki jawaban mengenai Tuhan.
Kesalahan memahami ketuhanan tidak hanya ditemukan pada konsep ketuhanan di luar Islam, melainkan juga dapat terjadi di kalangan muslim. Akmal menilai pembelajaran agama yang lebih banyak menekankan hukum dan kewajiban dapat membuat tauhid dipahami sebatas kumpulan aturan. Ia mencontohkan anaknya yang lebih mengingat pelajaran zakat sebagai rumus perhitungan yang sulit dihafalkan daripada alasan dan esensi berzakat. Karena itu, pendidikan agama dan dakwah perlu menanamkan pemahaman yang benar tentang Allah agar agama tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dikerjakan atau ditinggalkan.
Materi tersebut mengingatkan Fadhila Ammarie, salah satu murid SPI Bandung, agar tidak mudah terpesona oleh pemikiran yang baru ditemuinya. “Ketika ada pemahaman-pemahaman ‘baru’ di sekitar kita, kita gampang amazed tanpa tahu akarnya bagaimana. Benar kata Ustaz, karena kita sudah terlalu terbiasa dengan tauhid, kita take it for granted,” ujarnya. Pertemuan tersebut juga mengingatkan Fadhila untuk kembali mempelajari Al-Qur’an secara lebih mendalam.
Murid SPI lain bernama Miftahul Hidayah menyoroti perubahan caranya memandang kesulitan hidup setelah mempelajari Tauhidullah. “Semakin memahami tauhid, semakin aku terpesona dengan rahmat Allah kepada hamba-Nya,” tuturnya. Menurut Miftah, mengenal Allah tidak membuat kesulitan terasa menyakitkan, tetapi membantunya melihat hikmah, pembentukan diri, dan ketangguhan di baliknya. “Sebab, semakin mengenal Allah, semoga semakin kita mampu memaknai kehidupan dan belajar bersandar kepada-Nya dalam setiap keadaan," ujarnya. (Fadhilla Najmi Qinthara/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!