Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.480 views

Wamena Kembali Berdarah, Dimana Negara?

 

Oleh:

Ifa Mufida, Pemerhati Kebijakan Publik

 

KERUSUHAN yang terjadi di wamena, bukanlah yang pertama, dan bisa jadi (semoga tidak) bukan yang terakhir. Wamena berdarah pernah terjadi pada tahun 2000. Pada saat itu, Wamena berdarah karena konflik horisontal antara pendatang dengan pribumi, terjadi pembantaian besar-besaran. Kejadian di Wamena pada 6 Oktober tahun 2000 itu menyebabkan tujuh orang Papua dan 24 pendatang meninggal.

Tentunya perlu ada waktu untuk menghilangkan trauma dan rasa dendam. Sebab saat itu  banyak rumah, harta benda yang dimiliki oleh pendatang, bahkan rumah-rumah masyarakat pribumi pun banyak yang terbakar. Namun tragedi tersebut justru berulang. Bahkan kondisi saat ini jauh lebih genting. Sebab permasalahan yang muncul bukan hanya permasalahan horisontal antar suku, namun lebih jauh lagi tuntutan Papua merdeka yang sedang membara.

Kali ini, kisruh Wamena telah menyebabkan kematian sejumlah 33 jiwa dan  77 orang luka-luka. Selain itu, sekitar 10.000 orang mengungsi di tempat titik yang berbeda. Bahkan kebanyakan mereka berupaya melakukan eksodus besar-besaran untuk keluar dari Wamena. Belum lagi kerusakan fisik akibat kebrutalan massa. Mereka membakar 5 perkantoran, 80 mobil, 30 motor dan 150 ruko.

Kerusuhan yang cukup membara tersebut faktanya justru sepi dari pemberitaan. Media memang diarahkan untuk lebih tertarik dengan demonstrasi mahasiswa. Meskipun demo mehasiswa juga hal penting, tapi kejadian di Wamena jangan dianggap remeh. Selain korbannya cukup besar, kisruh di sana berpotensi mengancam persatuan dan kesatuan. Pertanyaannya, dimana negara? Dikala ancaman disintegrasi bangsa sudah di depan mata. Tuntutan referendum dan Papua Merdeka bahkan sudah menjadi pembicaraan di forum internasional.

Masalah berulang yang terjadi di Wamena merupakan potret bahwa negara ini tidak pernah hadir di tanah Papua. Ada yang split dengan permasalahan Papua yang sudah kronis. Pemerintah telah gagal menyembuhkan setiap luka dan sakit yang ada di sana. Bahkan terkesan dibiarkan. Konflik kepentingan sebenarnya sudah terjadi sejak penandatanganan Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang menetapkan penyerahan Papua barat dari Belanda ke Indonesia. Namun, Pemerintah Indonesia tidak pernah mampu mengusir cengkeraman kekuatan asing  di bumi Cendrawasih.

Seperti bagaimana Indonesia memperlakukan AS yang dianggap berjasa telah mengusir Belanda dari Papua, namun akhurnya AS dibiarkan menguasai gunung emas Freeport hingga detik ini. Sedangkan Australia justru secara transparan mendukung separatisme Papua karena memiliki kepentingan ekonomi dan keamanan di wilayah itu.

Demikian pula Inggris. Benny Wenda telah diberi suaka oleh Inggris sebagai Ketua Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Bahkan sebagai warga Oxford diberi gelar  ‘peaceful campaigner for democracy’. Bisa dipastikan dibalik ini, Inggris ingin mempertahankan perusahaan migasnya, British Petroleum (BP), agar bebas melakukan eksplorasi.

Pun juga, Sedang PBB di dalam Majelis Umum ke-74 tahun ini telah mengarusutamakan opini tentang pelanggaran Hak Asasi manusia (HAM) di tanah Papua. Vanuatu dalam pidato di Majelis Umum PBB tersebut, selain mengangkat isu dugaan pelanggaran HAM di Papua, juga meminta Australia turun tangan menangani konflik di wilayah paling timur Indonesia itu. Menteri Luar Negeri Vanuatu, Ralph Ragenvanu mengatakan "sejarah akan menilai kita" jika tak berbuat apa-apa menanggapi situasi krisis di Papua (cnnindonesia.com).

Dari sini, Indonesia sebagai pemilik sah Papua harusnya waspada. Meski dalam forum tersebut tidak menggagendakan referendum Papua, tapi opini umum yang disebarluaskan di forum itu oleh media Barat turut memicu keberpihakan dunia akan penyelesaian kasus HAM Papua. Tak mustahil akan berujung pada isu kemerdekaan Papua. Namun, sampai di sini pun negara belum benar-benar hadir di tanah Papua.

Padahal permasalahan papua yang akut saat ini perlu dengan sangat mendesak negara hadir di sana. Sangat patut jika hal ini diangkat sebagai permasalahan krusial negeri ini. Jangan hanya sibuk dengan bagi-bagi jabatan dan sidang yang prosedural, sampai lupa jika negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Sedang diperebutkan oleh negara-negara kapitalisme global.

Negara juga harus hadir untuk rakyat yang tinggal di sana. Selain trauma secara spikis, warga Wamena juga sedang kesulitan hidup bahkan hanya untuk sekedar makan mereka harus rela mengantri sangat panjang. Jika pemerintah memang menyatakan bahwa di sana sudah aman karena perusuh Wamena sudah ditangkap, apakah ada jaminan pula kerusuhan yang sama tidak akan terjadi?

Pasalnya gerakan separatisme yang ada di Papua semakin besar tubuhnya dan semakin lincah geraknya. Bahkan sampai saat ini, belum bisa dihentikan pergerakannya. Pemerintah juga dinilai sangat lambat menanggapi aksi separatisme tersebut, padahal mereka terus melakukan teror demi teror sebelumnya. B

Wamena berdarah, ataupun Papua berdarah akan terus ada jika akar pemasalahan di Papua tidak terselesaikan secara tuntas. Terlebih isu dan segala kondisi laten yang terjadi di Papua saat ini terus dicari momentumnya. Pergantian rezim yang berkuasa di Indonesia, sejak orde lama hingga hari ini tak mampu menyelesaikan masalah Papua. Tawaran solusinya selalu hanya sebatas pengalihan tanggung jawab. Semisal dengan pemberian otonomi khusus dimana hal ini justru akan memperkuat penguasaan korporasi asing di tanah papua. Faktanya rakyat Papua hanya menyantap sampah sisa dari perusahaan asing yang mengeruk harta Papua.

Sepanjang dalam pangkuan Indonesia, janji-janji perbaikan ekonomi faktanya tak mampu memberikan pemerataan kesejahteraan. Apalagi martabat pemerintah gagal membangun SDM Papua agar kualifikasinya merata dan setara hingga mampu mandiri membangun wilayahnya. Harapan itu jelas sulit dipenuhi oleh rezim yang hanya bekerja untuk para pemilik kapital, kepada mereka yang berani bayar. Inilah situasi yang telah terjadi di negara ini, kita telah terkurung oleh sistem kapitalisme-liberal.

Dalan sistem kapitalisme-liberal wajar jika pemerintah tidak menempatkan diri sebagai pengurus urusan rakyat. Harusnya pemerintah mau sedikit belajar dan mengaca kepada negara di dunia yang sudah berhasil membangun wilayahnya yang plural dalam kesatuan wilayahnya. Hal itu memang pernah terjadi di dalam pemerintahan Islam yang telah sukses menyatukan hampir 2/3 dunia. Saat itu, semua ras manusia telah melebur jadi satu dengan terikat aturan dan sistem dari wahyu Ilahi. *

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Pembangunan mushalla sudah rampung 60 persen dari pondasi hingga kubah. Masih kekurangan dana 20 juta rupiah untuk finishing agar berfungsi sebagai pusat ibadah, pembinaan aqidah, markas dakwah...

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Musibah kebakaran menghanguskan kamar santri, mushaf Al-Qur'an, kitab kuning, pakaian, alat tulis dsb. Diperlukan dana 25 juta rupiah untuk membangun asrama santri berupa rumah panggung dari...

Mushalla Al-Fatihah Tasikmalaya Selesai Dibangun, Total Biaya 66 Juta Rupiah

Mushalla Al-Fatihah Tasikmalaya Selesai Dibangun, Total Biaya 66 Juta Rupiah

Alhamdulillah mushalla yang hampir roboh dan tidak layak, selesai dibangun permanen. Total dana yang disalurkan sebesar Rp 66.813.500 semoga jadi amal jariyah, pahala terus mengalir tiada akhir...

Masya Allah.!! Keluarga Yatim Aktivis Tak Punya Rumah, Dievakuasi ke Wisma Tahfizh IDC Solo

Masya Allah.!! Keluarga Yatim Aktivis Tak Punya Rumah, Dievakuasi ke Wisma Tahfizh IDC Solo

Ditinggal sang ayah menghadap Ilahi, keluarga yatim aktivis dakwah ini tinggal di rumah kayu yang berdiri diatas tanah milik orang lain. Karena tanah ini akan dipakai oleh pemiliknya, terpaksa...

Santri TPQ Melepuh Terperosok Abu Panas, Tangannya Terancam Diamputasi, Ayo Bantu..!!

Santri TPQ Melepuh Terperosok Abu Panas, Tangannya Terancam Diamputasi, Ayo Bantu..!!

Sudah tiga puluh lima hari Khanza (5) meringkuk di atas tempat tidur. Tubuh santri Taman Al-Quran ini melepuh terluka bakar 40 persen. Tangan kirinya terancam diamputasi karena hangus tak berbentuk....

Latest News
Sri dan Luhut Jadi Menteri Lagi, Bagus Itu!

Sri dan Luhut Jadi Menteri Lagi, Bagus Itu!

Kamis, 24 Oct 2019 08:14

Ini Temuan Lokataru Foundation pada Aksi 24-26 September 2019

Ini Temuan Lokataru Foundation pada Aksi 24-26 September 2019

Kamis, 24 Oct 2019 06:44

Inilah 6 Tips agar Anak Tak Jadi Korban Gawai

Inilah 6 Tips agar Anak Tak Jadi Korban Gawai

Rabu, 23 Oct 2019 23:27

Erupsi Kabinet

Erupsi Kabinet

Rabu, 23 Oct 2019 23:18

Turki Tidak Lanjutkan Operasi Militernya di Suriah Utara Setelah Lakukan Kesepakatan dengan Rusia

Turki Tidak Lanjutkan Operasi Militernya di Suriah Utara Setelah Lakukan Kesepakatan dengan Rusia

Rabu, 23 Oct 2019 22:45

Dag-Dig-Dug Menunggu Telepon dari Istana

Dag-Dig-Dug Menunggu Telepon dari Istana

Rabu, 23 Oct 2019 22:26

Perdana Menteri Ethiopia Ancam 'Perang' dengan Mesir Terkait Bendungan Sungai Nil

Perdana Menteri Ethiopia Ancam 'Perang' dengan Mesir Terkait Bendungan Sungai Nil

Rabu, 23 Oct 2019 22:25

Sertifikat Halal, Efek Makanan Halal kian Langka?

Sertifikat Halal, Efek Makanan Halal kian Langka?

Rabu, 23 Oct 2019 21:19

Din Syamsuddin: Kementerian Agama Ganti Nama Saja Jadi Kementerian Antiradikalisme

Din Syamsuddin: Kementerian Agama Ganti Nama Saja Jadi Kementerian Antiradikalisme

Rabu, 23 Oct 2019 21:15

UEA Minta Yaman Kembalikan Suku Cadang yang Mereka 'Hadiahkan' untuk Pembangkit Listrik Aden

UEA Minta Yaman Kembalikan Suku Cadang yang Mereka 'Hadiahkan' untuk Pembangkit Listrik Aden

Rabu, 23 Oct 2019 21:00

Innalillahi, Ketua DPW PKS Jawa Timur Wafat Saat Kunjungan Kerja di Jakarta

Innalillahi, Ketua DPW PKS Jawa Timur Wafat Saat Kunjungan Kerja di Jakarta

Rabu, 23 Oct 2019 18:07

Militer Irak: Pasukan AS yang Menyebrang dari Suriah ke Irak Tidak Memiliki Izin Tetap Tinggal

Militer Irak: Pasukan AS yang Menyebrang dari Suriah ke Irak Tidak Memiliki Izin Tetap Tinggal

Rabu, 23 Oct 2019 11:15

Hari Santri, 50 Warga Denpasar Hijrah Hapus Tato

Hari Santri, 50 Warga Denpasar Hijrah Hapus Tato

Rabu, 23 Oct 2019 11:08

Prabowo Jadi Menteri Pertahanan

Prabowo Jadi Menteri Pertahanan

Rabu, 23 Oct 2019 10:03

Agar Asa Adidaya Baru Tidak Jadi Halusinasi

Agar Asa Adidaya Baru Tidak Jadi Halusinasi

Rabu, 23 Oct 2019 08:40

Cuaca Panas Melanda Indonesia, Ini Penjelasan BMKG

Cuaca Panas Melanda Indonesia, Ini Penjelasan BMKG

Rabu, 23 Oct 2019 07:11

Periode Kedua, Jokowi Dinilai Menanggung Beban Ganda

Periode Kedua, Jokowi Dinilai Menanggung Beban Ganda

Rabu, 23 Oct 2019 06:35

Berpengalaman 30 Tahun, LPPOM MUI Siap Menjalankan Amanat UU JPH

Berpengalaman 30 Tahun, LPPOM MUI Siap Menjalankan Amanat UU JPH

Rabu, 23 Oct 2019 02:08

Israel Berusaha Hilangkan Kurikulum Palestina di Wilayah Pedudukan Yerusalem

Israel Berusaha Hilangkan Kurikulum Palestina di Wilayah Pedudukan Yerusalem

Selasa, 22 Oct 2019 20:45

Pejabat Hamas: Agen Asing Siksa Para Tahanan Palestina di Penjara Saudi

Pejabat Hamas: Agen Asing Siksa Para Tahanan Palestina di Penjara Saudi

Selasa, 22 Oct 2019 20:30


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X