Senin, 15 Rabiul Akhir 1448 H / 28 September 2026 13:28 wib
106 views
Jangan Jalani Sakaratul Maut Sebelum Ajal Menjemput
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.
Kematian adalah kepastian. Namun, memikirkan kematian secara berlebihan hingga melumpuhkan kehidupan bukanlah cara yang tepat untuk mempersiapkan diri menuju akhirat.
Seorang remaja berusia 16 tahun mengungkapkan kegelisahannya tentang kematian. Ia tidak memiliki penyakit kronis ataupun persoalan hidup yang berarti. Namun, pikiran tentang kematian dan sakaratul maut terus menghantuinya.
Ia berdoa agar Allah memberinya umur panjang dan ketenangan hati. Namun, bayangan tentang kematian tetap hadir dalam kesehariannya. Awalnya, mengingat kematian membuatnya menjauhi kemaksiatan. Tetapi kemudian ketakutan itu semakin kuat hingga justru mengganggu ibadah.
Pikiran tentang sakaratul maut terkadang muncul ketika ia sedang shalat. Ia merasa sangat mual, kedua kakinya gemetar, dan ujung-ujung tubuhnya terasa dingin. Bahkan, dalam kondisi tertentu ia sampai harus shalat sambil duduk.
“Aku sangat takut terhadap kematian dan terus memikirkan bagaimana aku akan menghadapi sakaratul maut,” demikian kegelisahannya.
Ketika Mengingat Mati Tidak Lagi Menjadi Pendorong Amal
Mengingat kematian merupakan perkara yang baik. Iman kepada kematian, kebangkitan, hisab, surga, neraka, alam barzakh dan kehidupan akhirat merupakan bagian dari keimanan kepada perkara gaib yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Kesadaran bahwa kehidupan dunia akan berakhir semestinya membuat seorang mukmin lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Ia meninggalkan maksiat, memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.
Namun, ada perbedaan antara rasa takut yang mendorong seseorang untuk beramal dan ketakutan yang justru menguasai dirinya hingga mengganggu kehidupan dan ibadah.
Rasa takut kepada Allah semestinya berjalan bersama harapan kepada-Nya.
Seorang mukmin takut terhadap dosa dan akibatnya, tetapi pada saat yang sama ia berharap kepada rahmat, ampunan, dan pertolongan Allah. Inilah keseimbangan antara khauf dan raja'.
Karena itu, mengingat kematian tidak seharusnya membuat seseorang berhenti menjalani kehidupan.
Jangan Jalani Sakaratul Maut Sebelum Waktunya
Salah satu kesalahan dalam menghadapi kematian adalah terlalu sibuk membayangkan bagaimana rasa sakit yang akan dialami ketika ajal tiba.
Bagaimana jika sakaratul maut terasa sangat berat? Bagaimana jika ruh sulit keluar? Bagaimana keadaan saya ketika berada di dalam kubur?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat terus berputar dalam pikiran. Padahal, semua itu adalah perkara yang belum terjadi.
Nabi ﷺ memang mengabarkan bahwa kematian memiliki sakarat. Namun, seorang manusia tidak perlu menjalani rasa sakit sebelum rasa sakit itu benar-benar datang.
Ketika seseorang sakit, ia menghadapi rasa sakit itu ketika penyakit tersebut datang. Demikian pula kematian. Ia memiliki waktu yang telah ditetapkan Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”(QS. Al-A'raf: 34)
Maka, jangan menjalani rasa sakit kematian sekarang, sementara kematian itu sendiri belum datang.
Ketika waktunya tiba, seorang hamba akan menghadapi apa yang telah Allah tetapkan baginya. Allah pula yang akan menolongnya melewati saat tersebut.
Jangan Melihat Kematian Hanya dari Sisi Sakitnya
Seorang mukmin tidak memandang kematian hanya dari sisi sakarat dan rasa sakitnya. Ia juga melihat apa yang ada di balik kematian: perjumpaan dengan Allah, rahmat-Nya, ampunan-Nya, dan kehidupan akhirat.Karena itu, rasa takut perlu diimbangi dengan harapan.
Dalam penjelasan tentang keluarnya ruh seorang mukmin disebutkan gambaran bahwa ruhnya keluar:“Sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut wadah air.”
Gambaran ini memberikan ketenteraman bagi orang beriman. Ia tidak semestinya hanya membayangkan dahsyatnya kematian, tetapi juga mengharapkan rahmat dan kemuliaan dari Allah ketika bertemu dengan-Nya.
Adapun perkara-perkara alam barzakh, kita mengimaninya berdasarkan apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namun, Allah tidak menjadikan manusia hidup di dunia dengan menyaksikan seluruh detail alam gaib tersebut.
Nabi ﷺ bersabda:
لَوْلَا أَنْ لَا تُدَافَنُوا، لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ
“Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian azab kubur yang aku dengar.”(HR. Muslim no. 2868)
Ada hikmah besar di balik tertutupnya perkara-perkara gaib tersebut dari penglihatan kita.
Kita sedang berada di dunia, negeri amal, bukan negeri pembalasan.
Karena itu, tugas kita bukan membayangkan seluruh detail kehidupan setelah kematian. Tugas kita adalah beriman kepada perkara gaib dan mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Pertanyaan yang Lebih Penting
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:“Bagaimana saya akan mati?”
Tetapi:“Bagaimana saya menjalani kehidupan yang Allah berikan kepada saya?”
Manusia tidak diciptakan dengan sia-sia. Allah menciptakannya untuk beribadah kepada-Nya. Dunia adalah tempat ujian sekaligus kesempatan untuk beramal.
Kematian bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah perpindahan dari dunia menuju alam barzakh, kemudian menuju kehidupan akhirat.
Allah Ta'ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan.Dunia bukan tujuan akhir. Tetapi dunia juga bukan tempat yang harus ditinggalkan karena takut menghadapi akhirat.
Maka, mempersiapkan diri untuk kematian bukan berarti berhenti menjalani kehidupan. Justru kehidupan inilah kesempatan yang Allah berikan untuk mempersiapkan perjumpaan dengan-Nya.
Belajarlah. Tuntut ilmu. Bangun masa depan. Berbaktilah kepada orang tua. Berbuat baik kepada manusia. Nikmati perkara-perkara yang Allah halalkan. Tinggalkan maksiat. Perbanyak ibadah. Berikan manfaat kepada orang lain.Semua itu dapat menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat.
Jangan Sibuk dengan Kapan Mati, Sibuklah dengan Bekal
Ada pertanyaan yang perlu kita ubah.Daripada terus bertanya:“Bagaimana saya akan mati?”Lebih baik bertanya:“Bagaimana saya ingin menjalani hidup ini?”
Daripada terus memikirkan:“Apakah saya akan teguh di dalam kubur?”Lebih baik bertanya:“Apa yang sudah saya lakukan hari ini untuk membangun iman dan keteguhan?”
Daripada terus bertanya:“Apakah saya akan menjadi penghuni ‘Illiyyin?”
Lebih baik bertanya:“Amal apa yang bisa saya lakukan hari ini yang saya harapkan menjadi sebab turunnya rahmat Allah dan tingginya derajat saya?”
Inilah cara yang lebih sehat dalam memandang kematian.
Ringkasnya, mengingat kematian bukan untuk membuat kita takut menjalani kehidupan, tetapi agar kita tidak menyia-nyiakan kehidupan.
Kita tidak diperintahkan untuk menjalani kematian sebelum waktunya. Kita diperintahkan untuk menjalani kehidupan dengan iman dan amal saleh sebagai bekal menuju kematian.
Sebab, persoalan terpenting bukanlah seberapa sering kita membayangkan kematian, tetapi seberapa serius kita mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.
Dan selama Allah masih memberikan kita umur, berarti kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah bekal akhirat masih terbuka. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!