Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.108 views

Parasite dan Gagal Paham Seniman Kita

Oleh: Eeng Nurhaeni

(Esais dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten Selatan)

Universitas College London, Inggris, telah mengadakan penelitian dan berhasil menemukan fakta empiris bahwa kebohongan sangat berkaitan erat dengan kondisi otak seseorang.

Bentuk penelitian dimulai dari proses pemindaian otak kepada responden. Para ilmuwan menyebutnya dengan istilah Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI). Kemudian, kepada puluhan responden diberikan simulasi-simulasi kasus terhadap mereka.

Di antaranya, suatu hal yang dapat menguntungkan dirinya dan kawannya; lalu hal yang menguntungkan dirinya dan merugikan kawannya; terus menguntungkan kawannya dan merugikan dirinya; atau menguntungkan salah satu dari mereka tanpa memberi efek kepada yang lainnya.

Apakah sutradara Korea Selatan, Bong Joon-ho, yang berhasil memboyong kemenangan Oscar dalam filmnya “Parasite” pernah mengadakan penelitian serupa. Saya tidak tahu.

Tapi yang jelas, film tersebut menyiratkan kebohongan sebagai salah satu fenomena yang mengurat mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat kota. Empat tokoh dalam film Parasite, sebagai keluarga marjinal di tengah perkotaan, seakan menganggap bahwa kebohongan adalah sesuatu yang lumrah dan wajar saja.

Keluarga marjinal itu, telah mengesampingkan nilai-nilai kejujuran yang seharusnya menjadi tanggung jawab moral setiap individu dalam bersosialisasi. Penelitian di universitas College ini terus mempelajari aktifitas ketidakjujuran, dan berusaha mengungkap mengapa sedikit kebohongan bisa mendorong pada kebohongan-kobohongan selanjutnya yang lebih besar lagi. Inilah esensi dari penggambaran Parasite, sebagai film Asia satu-satunya yang berhasil meraih Oscar sejak awal penganugerahannya (1927).

Film tersebut sama sekali tidak menyinggung proses kemajuan teknologi pemindai otak yang dapat mengungkap fakta medis dibalik kebohongan dan perilaku berbohong. Melalui metode FMRI, para ilmuwan menunjukkan bahwa bagian otak amigdala, bagian yang sangat berhubungan dengan aktifitas emosi manusia, menjadi sangat aktif ketika responden melakukan kebohongan kecil pertama demi keuntungan pribadinya.

Reaksi amigdala ini akan semakin menurun seiring dengan peningkatan kekuatan berbohong responden. Bahkan lebih tendensius lagi, penurunan semakin besar dari aktifitas amigdala diprediksi akan mendorong kebohongan lebih besar di masa yang akan datang. Inilah yang membuat tokoh-tokoh utama dalam film Parasite tak sanggup lagi mengukur risiko, sampai pada waktunya mereka menganggap bahwa kebohongan itu lazim dan biasa saja.

 

Parasite dan Neurosains

Dr. Tali Sharot dari UCL Experimental Psychology menyatakan bahwa, ketika seseorang berbohong untuk kepentingan pribadinya, amigdala memberi perasaan negatif yang akan membatasi tingkat di mana ia sedang bersiap-siap untuk melakukan kebohongan berikutnya. Respon amigdala akan memudar jika seseorang terus berbohong.

Lalu, jika tingkat pemudaran itu semakin rendah, maka ia akan terus berani melakukan kebohongan yang lebih besar lagi, sampai-sampai – dibuktikan dalam ending film Parasite – hukum alam sendiri yang akan bertindak dan membalas keburukannya.

Peningkatan aktifitas amigdala sangat kentara pada tokoh ibu (diperankan Jang Hye-jin). Demi keuntungan diri dan keluarganya, ia tega mendiskreditkan pembantu lama untuk menggantikan posisinya. Degradasi moral semakin menjadi-jadi ketika seluruh anggota keluarga marjinal ini – yang dilegitimasi oleh peran bapak selaku teladan (diperankan Song Kang-ho) – terus menggalakkan ketidakjujuran kecil menjadi kebohongan-kebohongan yang semakin besar.

Suatu kali muncul pembelaan dari sang suami, bahwa majikannya itu adalah orang kaya yang baik hati. Namun demikian digugat pula oleh istrinya bahwa, “Bukan karena kebaikan yang membuat mereka menjadi kaya, tapi justru karena mereka kaya yang membuat mereka menjadi baik.”

Kisah yang ditampilkan Parasite pada prinsipnya adalah pembenaran akan sikap korup dari keluarga marjinal, bahwa dalam diri mereka pun menyimpan benih-benih mentalitas para koruptor. Memang sangat interesan di era milenial yang sarat hoaks dan kebohongan yang kadang dilakukan secara struktural akhir-akhir ini. Meskipun kemenangan film garapan sutradara Bong Joon-ho ini banyak mengundang perdebatan dan kontroversi, tetapi sampai saat ini makin ramai para penulis dan intelektual membahasnya, baik melalui resensi atau sinopsis di berbagai media nasional dan internasional.

 

Jangan Gagal Paham

Setelah kemenangan film Parasite, banyak acara diskusi dan dialog yang diselenggarakan lembaga kebudayaan maupun perfilman kita, namun nyaris tidak satu pun yang mengenai sasaran dalam khazanah software perfilman dunia. Kebanyakan pembicara mengawang-awang ngalor-ngidul, sampai-sampai ada juga yang getol mengelus-elus batu cincin di jari jemarinya.

Ada pertemuan budaya di Jakarta yang diakhiri dengan pembicara seorang seniman senior – sebab ia tak pernah menolak disebut “senior” – yang menyimpulkan bahwa film Parasite seakan-akan peringatan bagi pemerintah kita agar membangun toilet di seluruh Indonesia. Saya kira, sah-sah saja kesimpulan seperti itu. Memang ada adegan seseorang yang kencing di sembarang tempat. Juga peringatan itu ada moral massage-nya, tetapi maaf, apresiasi seperti itu amat sangat dangkal!

Selain itu, untunglah ada pengecualian. Saya sempat mengapresiasi resensi yang luar biasa dari seorang kiai NU Banten, yang sekaligus anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), K.H. Chudori Sukra (kolomnis Kompas) dalam opininya, “Mimpi Asia dalam Belenggu Parasite”.

Ia menyandingkan film Parasite dengan novel  John Steinbeck (The Pearl), yakni tentang seorang marjinal pinggiran kota, tiba-tiba kaya mendadak setelah menemukan mutiara pada saat ia menyelam. Sebutir mutiara yang menghebohkan itu menjadi bahan perbincangan di seputar tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Mau tidak mau ia dituntut agar menjadi seorang dermawan yang serba dadakan.

Hal ini mengentakkan ingatan kita pada simbol “batu jimat” yang terus-menerus dalam genggaman si anak sulung dalam Parasite, yang pada akhirnya harus dikembalikan ke habitatnya. Peristiwa sakral (syirik) ini bisa disandingkan pula dengan keris sakti dalam genggaman Mbah Durip dalam novel Perasaan Orang Banten, yang dianggap sebagai pendatang rezeki dan penangkal marabahaya. Begitupun dalam The Pearl, mutiara itu diibaratkan kunci surga firdaus yang berada dalam genggaman keluarga. Mereka membayangkan kehidupan masa depan yang serba mewah dan membahagiakan. Tetapi, rupanya dugaan itu meleset jauh.

Akibat kehadiran mutiara itu – sebagaimana simbol batu jimat tadi – justru menimbulkan komplikasi-komplikasi batin yang tidak kepalang tanggung. Ia menjadi penyulit jalan hidup yang merepotkan dalam dunia yang serba kalut dan tamak. Sampai pada akhirnya, keluarga itu memutuskan untuk melemparkan kembali mutiara itu ke tengah laut. Inilah yang menjadi moral massage, sekaligus menyiratkan pesan religius dari Steinbeck: “Kehidupan sederhana dan apa adanya, jauh lebih menentramkan batin, ketimbang diselubungi kemelut uang dan keserakahan.”

 

Cerpen Hafis Azhari

Sementara itu, Dr. Neil Garret selaku pemimpin penelitian di Universitas College, London,  menandaskan bahwa sinyal amigdala menjadi enggan merespon seiring dengan sikap-sikap korup yang amoral. Karena itu, respon otak menjadi tumpul jika ketidakjujuran dilakukan secara berulang-ulang, terlebih jika ketidakjujuran itu hanya mementingkan keuntungan dirinya serta merugikan pihak lain.

Hal ini mengingatkan kita pada cerpen Hafis Azhari berjudul “Kampung Abal-abal” (www.ahmadtohari.com) yang mengisahkan tentang kebohongan seorang ustad yang mengultuskan diri selaku “tokoh agama” di suatu kampung subur nan makmur, tapi masyarakatnya hidup miskin dan marjinal.

Meneladani gaya politik para penguasa, sang ustad memanfaatkan kebodohan massa sebagai komoditas politik semata. Dikuburlah seonggok kayu besar, lalu dengan memanfaatkan ayat-ayat Alquran, diiringi dengan gaya retorika seorang penceramah handal, ia berteriak-teriak di depan publik bahwa gundukan tanah di samping rumahnya itu adalah makam seorang wali besar.

Ajaran agama menjadi ajang pamer yang didakwakan ustad, yang tidak membuat masyarakat menjadi tentram dan nyaman, tapi justru membuat mereka menjadi takut akan kesaktian ustad berikut makam wali di samping rumahanya. Perlahan namun pasti, mereka pun memberikan berbagai macam sedekah dan sesajen, hingga membuat taraf hidup keluarga ustad semakin meningkat drastis. Sementara, nasib kemiskinan dan kebodohan masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu.

Badai besar dan banjir bandang selaku pewartaan hukum alam yang berlaku, akhirnya menghantam rumah sang ustad berikut makam wali yang hanya berisi bongkahan kayu besar. Rupanya sang ustad tak menyadari faktor geografis, bahwa dirinya telah membangun bangunan megah di bantaran sungai yang merupakan dataran paling rendah di kampung tersebut.

Kebohongan semakin terungkap dengan jelas, dan akal-akal sehat semakin bermekaran menaungi kehidupan masyarakat kampung.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Sungguh prihatin kondisi rumah Ustadz Ahmad Sukarman ini. Rumah tinggal yang difungsikan sebagai markas pengajian ini sangat tidak layak, rapuh dan reyot terancam roboh....

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hijrah menjadi Muslimah, mantan Kristen Pantekosta ini ditimpa banyak ujian mulai dari keluarga hingga kerasnya pekerjaan. Hidup sebatang kara, ia bekerja keras sebagai buruh pembuat batu bata. ...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Bermodal kaki palsu Abu Rahman keliling Kota Solo menjajakan minuman 'es kapal' untuk menafkahi keluarga. Kini ia tak bisa bekerja lagi karena kaki palsunya jebol tak bisa diperbaiki.Ayo Bantu.!!...

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Selain jadi target pemurtadan misionaris, warga kesulitan air bersih untuk wudhu, mandi, minum, memasak, dll. Diperlukan dana 11 juta rupiah untuk pipanisasi penghubung sumber mata air ke masjid,...

Latest News
PKS Desak PLN Tetap Jaga Stabilitas Operasional Meski Harga Batu Bara Naik

PKS Desak PLN Tetap Jaga Stabilitas Operasional Meski Harga Batu Bara Naik

Kamis, 28 Jan 2021 08:56

Partai Gelora Tolak PT 5 persen, Mahfuz: 4 persen Saja Tidak Mudah Mencapai

Partai Gelora Tolak PT 5 persen, Mahfuz: 4 persen Saja Tidak Mudah Mencapai

Kamis, 28 Jan 2021 08:32

Ketua Komisi VI DPRA Minta Pemerintah Aceh Serius Berlakukan Zakat Pengurang Pajak di Aceh

Ketua Komisi VI DPRA Minta Pemerintah Aceh Serius Berlakukan Zakat Pengurang Pajak di Aceh

Kamis, 28 Jan 2021 07:56

Gerakan Wakaf Nasional Itu Ambivalensi Rezim Jokowi?

Gerakan Wakaf Nasional Itu Ambivalensi Rezim Jokowi?

Kamis, 28 Jan 2021 07:20

Tembus 1 Juta Kasus, Fahira: Kecepatan Virus Bisa Diimbangi Penguatan 3T dan Pembatasan Mobilitas

Tembus 1 Juta Kasus, Fahira: Kecepatan Virus Bisa Diimbangi Penguatan 3T dan Pembatasan Mobilitas

Kamis, 28 Jan 2021 06:56

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Kamis, 28 Jan 2021 04:06

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Kamis, 28 Jan 2021 04:02

Jubir Kesehatan UEA: Orang Perlu Divaksin COVID-19 Setiap Tahun

Jubir Kesehatan UEA: Orang Perlu Divaksin COVID-19 Setiap Tahun

Rabu, 27 Jan 2021 21:35

Jumlah Kasus Virus Corona di Seluruh Dunia Lampaui 100 Juta

Jumlah Kasus Virus Corona di Seluruh Dunia Lampaui 100 Juta

Rabu, 27 Jan 2021 20:35

Zalim kepada HTI atau Anti Islam?

Zalim kepada HTI atau Anti Islam?

Rabu, 27 Jan 2021 15:33

Jangan Berhenti Berbuat Baik Meski Lelah Menghampiri

Jangan Berhenti Berbuat Baik Meski Lelah Menghampiri

Rabu, 27 Jan 2021 15:24

Waspada Politik Belah Bambu di Balik Narasi Kontra Ekstremisme

Waspada Politik Belah Bambu di Balik Narasi Kontra Ekstremisme

Rabu, 27 Jan 2021 15:09

Polisi Israel Kembali Terlibat Bentrok dengan Yahudi Ultra-Ortodoks di Yerusalem

Polisi Israel Kembali Terlibat Bentrok dengan Yahudi Ultra-Ortodoks di Yerusalem

Rabu, 27 Jan 2021 15:00

Turki Hadapi Musuh Jihadis Misterius di Idlib

Turki Hadapi Musuh Jihadis Misterius di Idlib

Rabu, 27 Jan 2021 14:30

Taubat Politik Jusuf Kalla

Taubat Politik Jusuf Kalla

Rabu, 27 Jan 2021 12:10

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Rabu, 27 Jan 2021 11:53

Presiden dan Kapolri Baru, Kunci Penuntasan Pembunuhan Laskar FPI

Presiden dan Kapolri Baru, Kunci Penuntasan Pembunuhan Laskar FPI

Rabu, 27 Jan 2021 11:51

Larangan Masuk ke Indonesia Masih Berlaku, Legislator Pertanyakan Kedatangan WNA China

Larangan Masuk ke Indonesia Masih Berlaku, Legislator Pertanyakan Kedatangan WNA China

Rabu, 27 Jan 2021 11:10

Menyikap Tabir Bukan Pelanggaran HAM Berat dalam Kasus Pembunuhan Enam Laskar

Menyikap Tabir Bukan Pelanggaran HAM Berat dalam Kasus Pembunuhan Enam Laskar

Rabu, 27 Jan 2021 10:50

Gerakan Wakaf di Tengah Perampokan Uang

Gerakan Wakaf di Tengah Perampokan Uang

Rabu, 27 Jan 2021 10:36


MUI

Must Read!
X