Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
109 views

Bullying di Sekolah dan Rapuhnya Benteng Moral Generasi

Oleh: Ummu Firly | Aktivis Muslimah

Sekolah semestinya menjadi tempat anak belajar, bertumbuh, menemukan teman, dan merasa aman. Namun bagi sebagian anak, sekolah justru menjadi tempat yang menyisakan ketakutan. Ada yang setiap hari harus menahan ejekan, dipermalukan di depan teman-temannya, dijadikan bahan lelucon, disebarkan aibnya, bahkan mengalami kekerasan fisik. Yang lebih menyedihkan, sebagian dari mereka memilih diam karena takut keadaan menjadi lebih buruk.

Ketika ruang yang seharusnya mendidik justru menjadi ruang yang membuat anak merasa terancam, persoalannya jelas tidak lagi sekadar kenakalan antarsiswa.

Data terbaru PISA 2025 menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar kesan atau sejumlah kasus yang kebetulan viral. Sebanyak 24% siswa Indonesia melaporkan mengalami sedikitnya satu bentuk bullying beberapa kali dalam sebulan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD sebesar 20%. OECD juga mencatat bahwa prevalensi bullying di Indonesia meningkat dibandingkan PISA 2022. Untuk cyberbullying, 7% siswa Indonesia melaporkan bahwa informasi tentang dirinya yang mengganggu dipublikasikan secara daring tanpa persetujuan mereka.

Bahkan, OECD menemukan bahwa bullying berkaitan dengan rasa memiliki terhadap sekolah yang lebih rendah dan capaian belajar yang lebih rendah. Artinya, luka akibat bullying tidak berhenti pada perasaan sakit hati. Ia dapat memengaruhi proses belajar, rasa percaya diri, relasi sosial, dan cara seorang anak memandang lingkungan di sekitarnya.

Bullying Bukan Sekadar Kesalahan Individu

Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Mengapa anak-anak sekarang suka mem-bully?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa tindakan menyakiti orang lain dapat terus berulang di lingkungan pendidikan yang seharusnya membentuk manusia berakhlak? Mengapa ejekan yang awalnya dianggap bercanda dapat berkembang menjadi penghinaan? Mengapa kekerasan dapat berlangsung sebelum orang dewasa benar-benar bertindak?

Dan mengapa dalam banyak kasus, perhatian baru membesar setelah korban mengalami luka yang lebih serius? Jika bullying hanya dilihat sebagai persoalan perilaku individu, kita akan sibuk mencari siapa anak yang salah tanpa cukup bertanya tentang lingkungan yang membentuk perilaku tersebut.

Di sinilah persoalan pendidikan perlu dilihat lebih dalam. Anak tidak tumbuh sendirian. Ia dibentuk oleh keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, media, dan nilai-nilai yang setiap hari hadir di sekelilingnya. Ketika kehidupan semakin dipisahkan dari agama, ukuran benar dan salah mudah bergeser menjadi sekadar persoalan kesepakatan sosial, aturan sekolah, atau konsekuensi hukum.

Anak bisa mengetahui bahwa bullying “tidak boleh”, tetapi belum tentu memiliki kesadaran bahwa menyakiti manusia adalah dosa yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Pengetahuan tentang aturan memang penting, tetapi aturan dari luar tidak selalu cukup ketika tidak ada kesadaran dari dalam.

..Pengetahuan tentang aturan memang penting, tetapi aturan dari luar tidak  cukup ketika tidak ada kesadaran dari dalam…

Dalam masyarakat yang dibentuk oleh cara pandang sekuler-kapitalistik, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Individualisme membuat kepedulian terhadap orang lain mudah melemah. Selama bukan diri sendiri atau keluarganya yang menjadi korban, persoalan orang lain dianggap bukan urusan.

Bullying bahkan dapat dinormalisasi sebagai “candaan”, “guyonan anak-anak”, atau bagian dari proses pendewasaan. Padahal bagi korban, satu kalimat yang dianggap lucu oleh pelaku bisa menjadi luka yang dibawa pulang, dipendam sendirian, bahkan membentuk cara anak melihat dirinya sendiri.

Membangun Pengendali dari Dalam Diri Anak

Karena itu, tidak cukup jika solusi bullying hanya berupa poster bertuliskan stop bullying, seminar sesekali, atau imbauan agar anak “saling menghargai”. Semua itu tetap diperlukan, tetapi tidak menyentuh akar persoalan jika pendidikan hanya berfokus pada perubahan perilaku tanpa membangun pandangan hidup yang menjadi dasar perilaku tersebut.

Anak membutuhkan alasan yang lebih kuat daripada sekadar takut ditegur guru. Ia membutuhkan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk Allah, bahwa kehormatan seorang Muslim wajib dijaga, bahwa kezaliman adalah perkara yang tidak boleh dilakukan, dan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Islam menempatkan akidah sebagai fondasi pembentukan kepribadian. Pendidikan tidak sekadar membuat anak cerdas secara akademik, tetapi membentuk manusia yang memahami siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.

Ketika takwa menjadi pengendali perilaku, seorang anak tidak membutuhkan kamera pengawas untuk memilih tidak menyakiti temannya. Ia menahan lisannya bukan semata-mata karena takut mendapat sanksi sekolah, tetapi karena sadar bahwa Allah mengetahui setiap perkataan dan perbuatannya. Di sinilah pendidikan akidah memiliki fungsi yang jauh lebih mendasar: membangun pengendali dari dalam diri.

…Ketika takwa menjadi pengendali perilaku, seorang anak tidak membutuhkan kamera pengawas untuk memilih tidak menyakiti temannya…

Islam juga tidak membiarkan masyarakat berdiri sebagai penonton ketika kemungkaran berlangsung. Amar makruf nahi mungkar menumbuhkan budaya saling peduli dan saling menjaga. Ketika seorang anak dirundung, teman-temannya tidak diajarkan untuk tertawa bersama pelaku atau memilih diam demi keamanan dirinya sendiri.

Mereka dididik untuk memahami bahwa membiarkan kezaliman bukan sikap yang patut. Guru, orang tua, dan masyarakat pun memiliki tanggung jawab untuk mencegah kerusakan sebelum berkembang menjadi lebih besar. Dengan demikian, pencegahan bullying bukan hanya tugas korban untuk berani melapor, tetapi tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang tidak memberi ruang bagi kezaliman.

Tanggung Jawab Negara dan Penegakan Keadilan

Namun keluarga dan masyarakat saja tidak cukup. Negara memiliki posisi penting karena negara memiliki kewenangan membangun sistem pendidikan, menetapkan aturan, melakukan pengawasan, dan memberikan sanksi. Pendidikan Islam memandang negara bukan sekadar pengelola administrasi sekolah, tetapi pihak yang bertanggung jawab memastikan pendidikan membentuk generasi dengan kepribadian Islam sekaligus membekali mereka dengan ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan kehidupan.

Karena itu, pencegahan bullying harus menjadi bagian dari sistem yang utuh: kurikulum yang membangun akidah dan akhlak, pembinaan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, pengawasan sekolah, mekanisme perlindungan korban, serta penegakan hukum yang memberikan efek pencegahan.

Dalam perspektif syariat, pertanggungjawaban seseorang juga tidak semata-mata ditentukan oleh kategori administratif seperti “masih anak-anak” atau “sudah dewasa”. Taklif berkaitan dengan baligh dan berakal. Ketika seseorang telah memenuhi syarat taklif, ia memiliki pertanggungjawaban syar’i atas perbuatannya.

Sistem uqubat dalam Islam memiliki fungsi zawajir –mencegah manusia melakukan kejahatan– sekaligus jawabir, yakni menjadi penebus bagi pelaku atas dosa tertentu sesuai ketentuan syariat. Penerapan sanksi tentu memiliki ketentuan, pembuktian, dan kewenangan yang tidak boleh dilakukan secara serampangan oleh individu. Justru di sinilah peran negara menjadi penting: memastikan keadilan ditegakkan melalui mekanisme hukum yang benar.

Membenahi Nilai yang Membentuk Generasi

Maka, ketika angka bullying kembali menunjukkan persoalan serius, yang perlu kita lakukan bukan hanya memperbanyak kampanye agar anak-anak berhenti mem-bully. Kita perlu bertanya lebih jauh tentang sistem nilai seperti apa yang sedang membentuk mereka. Sebab anak yang menyakiti tidak lahir begitu saja, sebagaimana korban yang terluka juga tidak seharusnya dibiarkan menanggung semuanya sendirian. Keduanya adalah bagian dari lingkungan pendidikan dan masyarakat yang harus dibenahi bersama.

Sekolah seharusnya bukan tempat anak belajar bagaimana bertahan dari penghinaan, melainkan tempat ia belajar mengenal ilmu, menghargai manusia, dan mendekat kepada Rabb-nya. Ketika pendidikan dibangun di atas akidah, keluarga menanamkan ketakwaan, masyarakat menumbuhkan kepedulian, dan negara hadir menjaga serta menegakkan aturan dengan adil, anak tidak hanya diajarkan untuk takut kepada hukuman, tetapi dibentuk menjadi manusia yang takut menzalimi karena sadar kepada siapa kelak ia akan mempertanggungjawabkan hidupnya.

…Anak adalah cermin tentang nilai apa yang sedang kita tanamkan kepada generasi…

Sebab pada akhirnya, persoalan bullying bukan hanya tentang anak yang menyakiti dan anak yang disakiti. Ia adalah cermin tentang nilai apa yang sedang kita tanamkan kepada generasi. Dan jika kita ingin sekolah kembali menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya memperbaiki perilakunya, tetapi juga membenahi sistem yang membentuk perilaku itu. [voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Opini Zone lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Nasib masjid di Kampung Cilumbu ini sungguh mengenaskan. Lima tahun mangkrak, kini nyaris tak berbentuk masjid, dipenuhi rumput liar, berlumut, dan menghitam terpapar panas dan hujan....

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Sahabat, Ulurtangan mari kirimkan dukungan terbaikmu untuk warga Palestina di Gaza demi menguatkan mereka menghadapi situasi mencekam ini. Mari dukung mereka dengan berdonasi dengan cara:...

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Saat ini, Ulurtangan bersama Yayasan An Najjahtul Islam Jonggol sedang merintis pembangunan Rumah Qur’an dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) An Najjah dan Gedung Majelis Taklim di Jonggol,...

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Mari bergabung dalam memperkuat jaringan kebaikan di pelosok negeri dengan Wakaf Al-Qur'an. Jangan ragu untuk menjadi bagian dari kebaikan ini. Abadikan harta dengan wakaf Al-Qur'an dan saksikan...

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Hidup Naura Salsabila dipenuhi dengan rintangan yang sangat berat. Meskipun baru berusia sepuluh bulan, bayi yang imut ini harus menghadapi penyakit yang dahsyat, yaitu tumor pembuluh darah berukuran...

Latest News

MUI

Sedekah Al Quran

Sedekah Air untuk Pondok Pesantren

Must Read!
X