Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.022 views

Lockdown: Simalakama antara Penyakit dan Kelaparan

 

Oleh: Dedah Kuslinah, S.T  

 

Tak dipungkiri, istilah Corona telah sampai dalam pembahasan di tingkat  bocah. Seorang ponakan yang duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar, melisankan seuntai kalimat  yang mengalir dari bibir mungilnya “Jangan lupa pakai masker Bu, harusnya jangan keluar rumah terus.” Alhamdulillah, dia memahami arti pentingnya lockdown.

Bagaimana di masyarakat?

Ternyata wabah makin menggila. Penguasa? Slow respon. Padahal para nakes (tenaga kesehatan) banyak yang jadi korban dan meninggal. Sarana prasarana tak memadai, hoak bertebaran, namun mereka masih keukeuh tidak mau lockdown.

Menurut Fahmiatul Husni, mekanisme lockdown itu konsekwensinya negara / pemerintah pusat wajib menanggung seluruh kebutuhan pokok rakyat di wilayah yang dikarantina. Makanya pemerintah tak berani ketok palu karena tak ada dana buat menanggungnya.

Senada dengan Fahmiatul Husni, Haris Azhar (Anggota Koalisi Masyarakat Sipil) dalam tayangan  Indonesia Lawyers Club, 24/3/2020, menilai bahwa pemerintah enggan me-lockdown negara karena ingin menghindari tanggung jawab menyantuni masyarakat sipil yang tak bisa bekerja. Selain itu, pemerintah tak bisa lockdown karena beralasan tidak ada dalam hukum Indonesia.

 

Ribetnya Hukum Sekuler, Lambatnya Langkah Lockdown

Hukum negeri ini kenalnya karantina, bisa berupa karantina nasional maupun lokal atau tempat-tempat tertentu tergantung lokasi dan konsentrasi mana yang akan dilakukan pemulihan. Daripada melakukan lockdown, pemerintah justru menyerukan kampanye diam di rumah seperti yang dilakukan oleh para petugas medis. Padahal penyebaran virus corona hingga menjadi wabah ini menunjukkan bahwa virus bekerja lebih cepat daripada kebijakan publik negara.

Kenapa masih belum melakukan lockdown, padahal korban sudah berjatuhan?

Lockdown bukan hal yang baru dalam perundang-undangan di Indonesia. UU no 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan dalam pasal 53, 54, dan 55 bicara tentang karantina wilayah. Inilah yang disebut lockdown. Atau barangkali pemerintah memahaminya kalau karantina wilayah itu bukan lockdown.

Tim pakar Gugus Tugas Penanganan Virus Corona, Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah belum berencana mengambil tindakan lockdown, karena akan berimplikasi pada ekonomi, sosial, keamanan. Masyarakat seharusnya sudah paham bahwa Indonesia memiliki pekerja lapangan yang tinggi. Mereka hidup dari menggunakan upah harian. Saat ini langkah yang paling efektif adalah social distancing atau menjaga jarak sosial antara masyarakat. Langkah ini menjadi kepedulian pemerintah supaya aktivitas ekonomi bisa tetap berjalan, dan berlaku dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. (Tempo.com,18/3)

Akankah kita seperti masyarakat Italia, Amerika dan Inggris? Yang menganggap remeh persoalan wabah ini. Menunggu korban bergelimpangan hingga semua terlambat?

Kita tidak ingin seperti itu. Jangan kita menjadi jumawa atau pendekar selembe, istilah orang Pontianak untuk seseorang yang tak mau peduli. Jika yang dikhawatirkan dengan adanya lockdown adalah pengaruh pada ekonomi, memang pasti akan berdampak. Ekonomi akan mandeg bahkan terpuruk. Tapi semua itu bisa dipulihkan jika manusianya hidup, sehat, dan terhindar dari serbuan virus Covid-19.

Bila kita sejenak relaksasi dengan mengamati opini yang berseliweran di media social. Akan kita dapati banyak cerita di balik kebijakan lockdown di sistem sekuler kapitalis.

Lock down membuat angka perceraian di China meningkat. Hal ini disebabkan karena para pasangan menghabiskan banyak waktu di rumah. Mereka cenderung berdebat sengit dan secara terburu-buru memilih berpisah. Selain itu disebabkan lambatnya penanganan, buntut dari tutupnya kantor pemerintah selama sebulan di saat karantina berlangsung (kompas.com,16/3)

Lock down telah membuka kedok sistem pendidikan terutama untuk perempuan. Pendidikan di sistem sekuler kapitalis tujuannya untuk meraih materi. Maka berlomba-lomba kaum hawa untuk menjadi pegawai negeri, swasta maupun pembisnis. Sehingga ketika ada kebijakan anak dirumahkan dan diwajibkan pembelajaran tetap berlangsung membuat para ibu yang selama ini mempercayakan pendidikan anak pada guru dan lembaga pendidikan menjadi kelimpungan.

Banyak anak yang merasa tidak nyaman belajar di rumah bersama ibunya. Hal ini tidak hanya terjadi di keluarga yang ibunya bukan seorang pendidik. Bahkan pada keluarga yang ibuya sebagai tenaga pendidik atau guru. Ada ungkapan bahwa seorang guru lebih berhasil mendidik anak orang lain daripada anaknya sendiri. Guru juga manusia, di sistem sekuler kapitalis tetap membutuhkan materi.

Lock down ibarat penyakit di luar, di dalam kelaparan terutama bagi sebagian masyarakat yang mengandalkan penghidupannya pada upah harian. Manakala sehari tidak ke luar rumah untuk mengais rejeki, maka mereka harus mengetatkan ikat pinggang guna menahan lapar.

Islam Menyikapi Lockdown

Lock down adalah solusi syar’i, atasi pandemi corona. Semestinya kebijakan lock down disikapi dengan keimanan. Dengan keimanan, kebersamaan dalam pengkarantinaan akan meningkatkan ketaqwaan dan kesabaran pada level yang lebih tinggi, sambil bertaqarrub kepada Allah SWT agar wabah ini segera berakhir.

Dengan keimananan, pendidikan yang tinggi bagi seorang perempuan ditujukan untuk menjadi madrasatul ula. Walhasil ada keterikatan dan kedekatan antara anak dan ibu, yang selama ini tercerabut oleh system sekuler kapitalis. Dan di tangan para ibu lah kegemilangan umat terwujud.

Dengan keimanan, idealitas yang terkandung dalam pasal 55 UU no 6 tahun 2018 tentang semua kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina (lockdown) dijamin sepenuhnya oleh pemerintah, bisa terwujud. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dengan pengibaratan ‘keluar penyakit didalam kelaparan.’

Beriman bukan berarti kehilangan rasionalitas, di sisi lain beriman juga mengandung konsekuensi keterikatan hukum syariat pada perilaku kita. Faktor keimanan ini yang menjadikan umat Islam istimewa. Kualitas keimanan yang kuat dan produktif adalah resep manjur umat dalam menghadapi berbagai ujian dan musibah di berbagai negeri.

Begitu juga dalam menyikapi pademi corona ini. Penting membangun keimanan dengan jalan rasionalitas (aqliyah). Syaikh Taqiyuddin An Nabhani pernah memperingatkan bahwa terdapat bahaya ketika beriman hanya dengan wijdan (perasaan) yang beresiko jatuh pada kesesatan dan kebodohan. Kemudian, saat ada kesenjangan antara aktivitas berpikir, keimanan dan tingkah laku kita sebagai Muslim, maka sesungguhnya kita belum beriman seutuhnya.

Selain itu syariat Islam mengatur bagaimana merespon sebuah pandemi. Wabah pandemi belum terjadi di zaman Nabi, tetapi Nabi Muhammad Saw sudah mengajarkan, kalau itu terjadi, bagaimana umatnya menyikapi.

Nabi bersabda yang artinya “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini menjelaskan larangan memasuki wilayah pandemi, agar tidak tertular. Begitu juga bagi yang sudah di dalam tidak boleh keluar, agar tidak menularkan kepada yang lain. Kecuali, keluar dari wilayah itu dengan alasan yang syar’i.

Ketika pandemi ini terjadi di zaman Khilafah 'Umar, saat itu wilayah pandeminya adalah Amwash, dekat Palestina, wilayah Syam. Umar pun menaati Syariat, dengan melaksanakan prinsip hadis ini yakni membatalkan kepergiannya ke lokasi wabah.

Dengan demikian, kebijakan lock down adalah kebijakan syar’i. Untuk itu kebijakan lock down harus ditunjang oleh system kehidupan dan kenegaraan yang berorientasi kepada kesejahteraan rakyat. Syariat Islam yang paripurna telah memberikan solusi kehidupan dengan tepat. Ekonomi Islam berbasis sektor yang riil. Kekayaan alam milik umum tidak akan diserahkan kepada swasta dan asing. Negara dengan segala dayanya akan semaksimal mungkin mengelola seluruh kekayaan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehingga tatkala kebijakan lock down diterapkan Negara tidak kelabakan memenuhi semua kebutuhan rakyat.

Dengan wabah corona hari ini, umat Islam butuh khilafah. Sistem pemerintahan yang berdasarkan akidah Islam. Pejabat dalam khilafah adalah orang yang takut mengkhianati amanat. Karena di akhirat mereka akan mempertanggungjawabkan semua kepemimpinannya. Walhasil tidak akan ada masyarakat yang mengalami “penyakit di luar, di dalam kelaparan”. Wallahu’alam bish shawab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: kumparan

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Semakin Berkah, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

Zakat Fitrah IDC: Ramadhan Semakin Berkah, Sempurnakan Ibadah Ramadhan dengan Zakat

IDC menerima zakat fitrah Rp 40.000 hingga 51.000 per-jiwa, disalurkan kepada Mustahiq dengan prioritas Muallaf dan Fakir Miskin dari kalangan yatim, aktivis Islam, dan dhuafa terdampak pandemi...

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Kini mereka tinggal di rumah triplek yang reyot dan doyong terancam roboh. Ayo Bantu bedah rumah yatim.!!...

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Latest News
[Hoax] Surat Rapid Test kepada Ulama Modus Operandi PKI

[Hoax] Surat Rapid Test kepada Ulama Modus Operandi PKI

Senin, 25 May 2020 06:39

Haftar Serukan Pasukannya Targetkan 'Kolonial' Turki Setelah Derita Kerugian Besar

Haftar Serukan Pasukannya Targetkan 'Kolonial' Turki Setelah Derita Kerugian Besar

Ahad, 24 May 2020 22:00

Wanita Iran Berusia 107 Tahun Sembuh dari Infeksi Virus Corona

Wanita Iran Berusia 107 Tahun Sembuh dari Infeksi Virus Corona

Ahad, 24 May 2020 21:45

Presiden Afghanisttan Asraf Ghani Berjanji Percepat Pembebasan Tahanan Taliban

Presiden Afghanisttan Asraf Ghani Berjanji Percepat Pembebasan Tahanan Taliban

Ahad, 24 May 2020 21:34

Anggota DPR RI Kritik Narasi Damai Pemerintah Terhadap Virus Corona

Anggota DPR RI Kritik Narasi Damai Pemerintah Terhadap Virus Corona

Ahad, 24 May 2020 09:35

RUU Omnibus Law Dinilai Berpotensi Mengundang Campur Tangan Rezim terhadap Pers

RUU Omnibus Law Dinilai Berpotensi Mengundang Campur Tangan Rezim terhadap Pers

Ahad, 24 May 2020 08:51

BPJS Naik Kembali, Bukti Setengah Hati Melayani Rakyat

BPJS Naik Kembali, Bukti Setengah Hati Melayani Rakyat

Ahad, 24 May 2020 07:44

Mengenai Zonasi Penyebaran Covid-19, Berikut Tanggapan Haedar Nashir

Mengenai Zonasi Penyebaran Covid-19, Berikut Tanggapan Haedar Nashir

Ahad, 24 May 2020 06:06

‘Kosong-Kosong’: Makna Hakiki Bersilaturahmi

‘Kosong-Kosong’: Makna Hakiki Bersilaturahmi

Ahad, 24 May 2020 05:34

Baju Hari Raya dan Pandemi Corona

Baju Hari Raya dan Pandemi Corona

Ahad, 24 May 2020 05:20

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1441H Jatuh Pada 24 Mei 2020

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1441H Jatuh Pada 24 Mei 2020

Sabtu, 23 May 2020 23:42

Hari Raya Idul Fitri 1441 H: Memetik Buah Ramadhan

Hari Raya Idul Fitri 1441 H: Memetik Buah Ramadhan

Sabtu, 23 May 2020 22:16

Pakistan Kirim Pasokan Medis ke AS untuk Bantun Amerika Perangi Corona

Pakistan Kirim Pasokan Medis ke AS untuk Bantun Amerika Perangi Corona

Sabtu, 23 May 2020 20:15

FPKS Ajak Masyarakat Kritisi RUU HIP

FPKS Ajak Masyarakat Kritisi RUU HIP

Sabtu, 23 May 2020 19:32

Istiqamah Taat Pasca Ramadhan

Istiqamah Taat Pasca Ramadhan

Sabtu, 23 May 2020 19:23

Efek Corona Raksasa Minyak Dunia Derita Kerugian Lebih 20 Miliar USD Pada Kuartal Pertama 2020

Efek Corona Raksasa Minyak Dunia Derita Kerugian Lebih 20 Miliar USD Pada Kuartal Pertama 2020

Sabtu, 23 May 2020 19:00

Palestina Tolak Pasokan Medis Virus Corona Dari UEA Yang Dikirim Lewat Israel

Palestina Tolak Pasokan Medis Virus Corona Dari UEA Yang Dikirim Lewat Israel

Sabtu, 23 May 2020 13:41

Sepakat Berdamai, Asmadi Satpol PP yang Cekcok dengan Habib Umar Assegaf Dihadiahi Umrah

Sepakat Berdamai, Asmadi Satpol PP yang Cekcok dengan Habib Umar Assegaf Dihadiahi Umrah

Sabtu, 23 May 2020 10:05

Idul Fitri Serentak, Awal Persatuan Ukhuwah yang Tak Terkoyak

Idul Fitri Serentak, Awal Persatuan Ukhuwah yang Tak Terkoyak

Sabtu, 23 May 2020 09:09

Layakkah Penyelenggara Konser Amal Corona Minta Maaf?

Layakkah Penyelenggara Konser Amal Corona Minta Maaf?

Jum'at, 22 May 2020 23:19


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X