Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.283 views

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

 

Oleh:

Hersubeno Arief || Wartawan Senior

 

PRESIDEN Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang sesungguhnya tak lazim dan tak boleh diucapkan seorang Presiden. “Ngeri…..terus terang saya ngeri.”

Jokowi juga menggunakan kembali kosa “bahaya”, dan “krisis”.  Yang kali ini tidak diucapkan adalah “extra ordinary”. Dia menyampaikan kegalauannya dalam sidang kabinet terbatas Selasa (07/07). Pernyataan itu kemudian didistribusikan ke media oleh Biro Pers Istana Rabu malam (08/07).

Lumayan, hanya berselang satu hari. Tidak harus dipendam dulu sampai 10 hari. Seperti ketika Jokowi marah-marah pada rapat paripurna kabinet (18/06). Mengancam akan membubarkan lembaga dan memecat menteri (reshufle).

Presiden sudah benar. Memang harus ngeri. Walaupun terlambat, tapi harus tetap kita syukurilah.  Akhirnya ada kesadaran situasinya extra ordinary seperti ucapannya. Harusnya ngerinya sejak dulu. Tujuh bulan lalu ketika virus corona, muncul di Wuhan.  Atau setidaknya ya tiga setengah bulan lalu  lah. Ketika di Jakarta dipastikan ada yang positif tertular virus made in China itu.

Situasinya kini seperti nasi sudah menjadi bubur. Krisisnya bukan hanya berdampak terhadap kesehatan dan ekonomi. Tapi sudah merambah kemana-mana. Krisis sosial, krisis politik, krisis kepercayaan terhadap pemerintah, krisis legitimasi, dan yang lebih mengerikan —khususnya bagi Jokowi— adalah krisis kepemimpinan.

Para menteri tidak menjalankan perintah Jokowi, sehingga kemarahan itu harus diulang-ulang. Sampai harus memohon supaya para menteri punya “perasaan yang sama” dengannya. Dan kini nadanya dari marah berubah menjadi ngeri. Ucapan seseorang yang tidak lagi berdaya. Padahal dia seorang presiden yang masih berkuasa penuh.

Krisis saat ini ibarat penyakit kanker. Sudah metastase. Penyebaran sel kanker dari satu organ atau jaringan tubuh, merambah ke organ yang lainnya. Jauh dari tempat awal munculnya kanker. Sudah stadium IV, sudah terminal. Harus ada penanganan yang super serius, super fokus, tidak boleh lengah. Setelah itu tinggal menunggu keajaiban. Menunggu takdir!

Demoralisasi

Mengapa Jokowi sampai harus mengucapkan kata ngeri? Ucapan yang seharusnya tabu bagi seorang Presiden? Ucapan itu bisa menimbulkan demoralisasi. Bukan hanya untuk timnya, yang lebih utama bagi rakyat jelata. Kelompok yang paling menderita karena pandemi.

Meminjam ucapannya, situasi ekonomi dunia saat ini benar-benar parah. Pertumbuhan ekonomi terus anjlok. Dari semula 2,5 persen, turun menjadi 5 persen, dan sekarang menjadi 7,5 persen. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Menkeu Srimulyani pada pertengahan Juni lalu memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua akan minus 3,1 persen. Kadin Indonesia punya perhitungan lebih parah. Minus 4-6 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi minus lebih dari 7%.

Pada kuartal III, Sri memperkirakan  pertumbuhan ekonomi diprediksi minus 1 hingga 1,2% dan pada kuartal IV di kisaran 1,6% hingga 3%.

Pertumbuhan ekonomi  yang membaik di kuartal III dan IV itu hanya bisa terwujud  bila asumsi-asumsi stimulus ekonomi berjalan dengan baik. Dan yang paling penting, bila pengendalian pandemi bisa berjalan dengan baik pula.

Yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Ketika marah-marah dalam rapat paripurna, Jokowi mempersoalkan penyerapan anggaran pemerintah yang sangat rendah. Fokus yang dia soroti anggaran kesehatan, anggaran jaringan pengaman sosial, dan stimulus ekonomi.

Dalam rapat terbatas dengan departemen/lembaga yang memiliki anggaran terbesar (07/07), hal itu kembali dipersoalkan. Dia menyoroti anggaran di Dephan dan  lembaga lainnya yang penyerapannya masih lamban.

Data terbaru ketika pemerintah menerapkan tahapan menuju new normal —dengan harapan ekonomi dapat kembali bergerak—tingkat positif corona malah melonjak drastis.

Kamis (09/07) jumlah positif Covid-19 mencapai rekor tertinggi 2.657 orang. Angkanya menyebar di berbagai provinsi, dan Jabar tiba-tiba menyalip Jatim dan DKI dengan angka positif tertinggi.

Di Bandung lebih dari seribu taruna sekolah calon perwira (Secapa) TNI AD kedapatan positif covid. Sejumlah kantor pemerintah kembali diliburkan karena pegawainya positif terjangkit. Mereka terpaksa diminta kembali bekerja dari rumah.

Sayangnya dari penilaian Jokowi, bekerja dari rumah, bagi ASN malah seperti cuti panjang. Padahal semua harus kerja keras dan kerja cepat.

Kemarahan, ancaman pembubaran lembaga, reshufle dan terakhir pernyataan “ngerinya” Jokowi menunjukkan situasi krisis di pemerintahan Jokowi. Data yang tidak sinkron. Instruksi Jokowi yang tidak dijalankan para menteri, menunjukkan dia tidak berdaya. Diabaikan.

Ketika Jokowi marah, dia menyebut anggaran Kemenkes sebesar Rp 75 triliun, baru terserap 1,53 persen. Data itu langsung dibantah Komisi IX DPR RI. Benar, anggaran Kemenkes sangat besar. Rp 87,5 triliun. Bukan Rp 75 triliun. Untuk anggaran Covid hanya Rp 25,75 triliun. Sisanya sebesar Rp 61,2 triliun dikelola Kementerian Keuangan.

Dari jumlah Rp 25,75 triliun tersebut, yang baru diserahkan ke Kemenkes sebesar Rp 1,96 triliun atau sekitar 17,6 persen. Jadi dari mana Jokowi mendapat data itu? Sudah marah, salah data pula.

Kemudian ancaman membubarkan lembaga dan reshufle kabinet. Juga dimentahkan oleh Mensesneg Pratikno. Menurutnya kalau kabinet bekerja baik, reshufle tidak relevan lagi.

WHAATTTTT?

Pernyataan Presiden dikoreksi oleh seorang menteri? Dunia sudah terbolak-balik. Harusnya pernyataan menteri kalau salah, dikoreksi oleh presiden. Tidak boleh terbalik.

Yang paling mutakhir adalah munculnya keputusan Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan Rachmawati. Pembatalan Peraturan KPU yang menjadi dasar kemenangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019 oleh MA,  menimbulkan kehebohan yang luar biasa.

Kendati para pakar hukum tata negara sebagian besar sepakat, bahwa itu tak berpengaruh terhadap hasil Pilpres 2019, namun  secara politik punya dampak yang berbeda. Semua itu menunjukkan lemahnya basis legitimasi dan kepuasan publik atas kinerja pemerintahan Jokowi.

Andai saja semuanya baik-baik. Ekonomi tumbuh. Perut rakyat kenyang. Penanganan pandemi terkendali dan berjalan baik. Mau ada  seribu keputusan baru dari MA, tidak akan berpengaruh. Apalagi sampai heboh.

Sampai bawa-bawa ganti pemerintah lah. Pemilu ulang lah. Ada pula yang minta Jokowi turun. Kalau sudah begini kondisinya, Presiden Jokowi memang harus ngeriiii! End.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Nenek renta ahli ibadah ini hidup seorang diri di bilik reyot Bengawan Solo. Bila hujan seisi rumah kebocoran air. Di malam hari, ia menggigil kedinginan diserang angin malam karena dindingnya...

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hijrah menjadi Muslimah, mantan Kristen Pantekosta ini ditimpa banyak ujian mulai dari keluarga hingga kerasnya pekerjaan. Hidup sebatang kara, ia bekerja keras sebagai buruh pembuat batu bata. ...

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Latest News
Tutup Munas ke-10 MUI, Wapres Sampaikan 3 Pesan Penting

Tutup Munas ke-10 MUI, Wapres Sampaikan 3 Pesan Penting

Sabtu, 28 Nov 2020 13:13

Sampaikan Pidato Perdana, Ketua Umum Baru MUI: Mari Jaga Silaturahim

Sampaikan Pidato Perdana, Ketua Umum Baru MUI: Mari Jaga Silaturahim

Sabtu, 28 Nov 2020 13:10

Gara-gara Benur, Gerindra Babak Belur

Gara-gara Benur, Gerindra Babak Belur

Sabtu, 28 Nov 2020 12:05

Bulu Kucing Najis?

Bulu Kucing Najis?

Sabtu, 28 Nov 2020 11:15

Legislator: Utang Pemerintah Makin Mengkhawatirkan

Legislator: Utang Pemerintah Makin Mengkhawatirkan

Sabtu, 28 Nov 2020 09:27

Bupati dan Gabungan Ormas Islam Halau Pengikut Syiah di Takalar

Bupati dan Gabungan Ormas Islam Halau Pengikut Syiah di Takalar

Sabtu, 28 Nov 2020 08:59

WHO: Orang Dewasa dan Anak Harus Banyak Gerak Saat Pandemi

WHO: Orang Dewasa dan Anak Harus Banyak Gerak Saat Pandemi

Sabtu, 28 Nov 2020 07:53

PKS Harus Tetap Berada di Garda Terdepan Memperjuangkan Keadilan dan Kesejahteraan

PKS Harus Tetap Berada di Garda Terdepan Memperjuangkan Keadilan dan Kesejahteraan

Jum'at, 27 Nov 2020 23:06

Menag Ajak Masyarakat Dukung Pendidikan Tahfizh Melalui Zakat, Infak dan Wakaf

Menag Ajak Masyarakat Dukung Pendidikan Tahfizh Melalui Zakat, Infak dan Wakaf

Jum'at, 27 Nov 2020 22:38

Pemerintah Israel Instruksikan Militernya Bersiap Untuk Kemungkinan Serangan AS Terhadap Iran

Pemerintah Israel Instruksikan Militernya Bersiap Untuk Kemungkinan Serangan AS Terhadap Iran

Jum'at, 27 Nov 2020 21:45

Gus Aam Harap PKS Bisa Wujudkan Nilai-nilai Islam di Pemerintahan dan Masyarakat Luas

Gus Aam Harap PKS Bisa Wujudkan Nilai-nilai Islam di Pemerintahan dan Masyarakat Luas

Jum'at, 27 Nov 2020 21:14

Teh Jahe dapat Turunkan Berat Badan

Teh Jahe dapat Turunkan Berat Badan

Jum'at, 27 Nov 2020 21:05

Kemenag Alokasikan 5,7 Triliun Bantuan Pemulihan Ekonomi untuk Pendidikan Agama

Kemenag Alokasikan 5,7 Triliun Bantuan Pemulihan Ekonomi untuk Pendidikan Agama

Jum'at, 27 Nov 2020 21:00

Menlu Saudi: Pemberontak Syi'ah Houtsi Dukungan Iran Di Balik Permasalahan di Yaman

Menlu Saudi: Pemberontak Syi'ah Houtsi Dukungan Iran Di Balik Permasalahan di Yaman

Jum'at, 27 Nov 2020 20:46

Pengadilan Banding Potong Hukuman Penjara Penembak Mati 6 Jamaah di Masjid Quebec Jadi 25 Tahun

Pengadilan Banding Potong Hukuman Penjara Penembak Mati 6 Jamaah di Masjid Quebec Jadi 25 Tahun

Jum'at, 27 Nov 2020 19:00

Parlemen Azerbaijan Serukan Prancis Dikeluarkan Dari Kelompok Mediasi Nagorno-Karabakh

Parlemen Azerbaijan Serukan Prancis Dikeluarkan Dari Kelompok Mediasi Nagorno-Karabakh

Jum'at, 27 Nov 2020 16:45

RUU Minol Diharapkan Basmi Miras Oplosan

RUU Minol Diharapkan Basmi Miras Oplosan

Jum'at, 27 Nov 2020 11:39

Lewat Program Satu Desa Satu Hafizh, Wagub Jabar Minta Santri Belajar Multidisplin

Lewat Program Satu Desa Satu Hafizh, Wagub Jabar Minta Santri Belajar Multidisplin

Jum'at, 27 Nov 2020 10:36

Anis Sarankan Pemerintah Gandeng Koperasi Salurkan Dana PEN untuk UMKM

Anis Sarankan Pemerintah Gandeng Koperasi Salurkan Dana PEN untuk UMKM

Jum'at, 27 Nov 2020 09:21

Ini Daftar Lengkap Dewan Pimpinan Harian MUI 2020-2025

Ini Daftar Lengkap Dewan Pimpinan Harian MUI 2020-2025

Jum'at, 27 Nov 2020 08:25


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X