Selasa, 18 Rabiul Awwal 1448 H / 1 September 2026 05:19 wib
84 views
Ghibah, Dosa Lisan yang Bisa Menghapus Pahala Amal
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.
Ghibah sering dianggap sebagai dosa ringan. Hanya berbicara tentang seseorang ketika ia tidak ada. Hanya menceritakan kekurangannya kepada teman. Hanya obrolan santai di majelis, grup WhatsApp, atau media sosial.
Namun, dalam pandangan syariat, perkara ini tidak sesederhana itu.
Ghibah merupakan dosa yang berkaitan dengan kehormatan seorang Muslim. Bahkan Allah Ta'ala memberikan perumpamaan yang sangat mengerikan: orang yang melakukan ghibah diibaratkan seperti memakan daging saudaranya sendiri yang telah meninggal.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hujurat: 12)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan tersebut menunjukkan betapa buruk dan menjijikkannya ghibah. Sebagaimana manusia merasa jijik memakan daging mayat, demikian pula seharusnya seorang Muslim merasa jijik untuk memakan kehormatan saudaranya dengan ghibah.
Apa Sebenarnya Ghibah?
Nabi ﷺ telah menjelaskan makna ghibah dengan sangat gamblang.
Beliau bertanya kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟
“Tahukah kalian apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau ﷺ bersabda:
ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana jika apa yang saya katakan itu memang benar ada pada saudaraku?”
Nabi ﷺ menjawab:
إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Jika apa yang engkau katakan memang ada padanya, berarti engkau telah mengghibahinya. Jika apa yang engkau katakan tidak ada padanya, berarti engkau telah melakukan kebohongan terhadapnya (buhtan).” (HR.Muslim no. 2589)
Maka, jangan berpikir, “Saya kan mengatakan yang sebenarnya.”Justru apabila sesuatu yang dibicarakan itu benar, tetapi orang yang bersangkutan tidak suka hal tersebut dibicarakan di belakangnya, itulah ghibah.
Jika ternyata tidak benar, dosanya lebih berat lagi: menjadi buhtan atau tuduhan dusta.
Ketika Pahala Amal Dipertaruhkan
Ada sebuah atsar yang sangat menggugah hati yang dinukil oleh Imam Ibn al-Jauzi dalam Baḥr ad-Dumū‘.
Dari Sa‘id bin Jubairrahimahullah:Pada hari Kiamat seorang hamba didatangkan dan diberikan kepadanya catatan amalnya. Ia tidak melihat di dalamnya salatnya dan puasanya, sementara ia melihat amal-amal salehnya. Ia pun berkata:
‘Wahai Rabbku, ini bukan catatan amalku. Aku memiliki kebaikan-kebaikan yang tidak terdapat dalam catatan ini.’
Lalu dikatakan kepadanya:
إِنَّ رَبَّكَ لَا يَضِلُّ وَلَا يَنْسَى، ذَهَبَ عَمَلُكَ بِاغْتِيَابِكَ النَّاسَ
“Sesungguhnya Rabbmu tidak sesat dan tidak pula lupa. Amalmu telah pergi disebabkan engkau mengghibahi manusia.”
Ibn al-Jauzi kemudian memberikan peringatan agar seorang Muslim menjauhi ghibah dan namimah karena keduanya membahayakan agama, merusak amal, dan menimbulkan permusuhan di antara kaum Muslimin.
Ghibah dan Bahaya “Bangkrut” di Akhirat
Peringatan tentang hilangnya pahala karena kezhaliman kepada manusia juga ditegaskan dalam hadits shahih tentang al-muflis, orang yang bangkrut di akhirat.
Nabi ﷺ bersabda bahwa orang yang bangkrut dari umat beliau adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa shalat, puasa dan zakat, tetapi ia juga datang dengan dosa karena mencela orang lain, menuduh, mengambil harta, menzalimi dan menyakiti mereka.
Kemudian pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahala tersebut habis sebelum seluruh kezalimannya selesai, dosa-dosa orang yang dizaliminya akan dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim no. 2581)
Inilah yang semestinya membuat kita takut. Seseorang bisa rajin shalat, banyak berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur'an, dan berdakwah, tetapi lisannya menjadi sebab ia kehilangan pahala dan menjadi orang yang bangkrut di akhirat.
Ghibah Zaman Sekarang Semakin Mudah
Dahulu seseorang harus bertemu langsung dengan orang lain untuk membicarakan keburukan seseorang.Hari ini cukup dengan mengetik.
Satu pesan WhatsApp dapat dikirim kepada puluhan bahkan ratusan orang. Satu komentar dapat dibaca ribuan orang. Satu unggahan media sosial dapat tersebar tanpa batas.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ghibah terkadang dibungkus dengan kalimat:“Saya cuma sharing”, “Saya cuma mengingatkan”, “Ini fakta, kok.”, “Biar semua orang tahu”.
Padahal, apabila yang disampaikan adalah sesuatu yang benar tentang seorang Muslim dan dia tidak suka hal tersebut dibicarakan ketika dirinya tidak ada, maka itu tetap masuk dalam pengertian ghibah.
Jika Sudah Terlanjur Ghibah, Apa yang Harus Dilakukan?
Jangan berputus asa dari rahmat Allah.Segeralah bertaubat kepada Allah, menyesali perbuatan tersebut, meninggalkannya dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Jika ghibah tersebut berkaitan dengan hak seorang Muslim, persoalan meminta maaf kepada orang yang dighibahi perlu diperhatikan dengan ilmu dan hikmah. Tidak setiap keadaan mengharuskan seseorang memberitahukan ghibahnya kepada orang tersebut apabila pemberitahuan itu justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Yang jelas, jangan teruskan dosa itu.Jika dahulu lisan kita mudah membicarakan aib manusia, mulai hari ini jadikan lisan sebagai sarana untuk menyebut kebaikan.
Jika dahulu kita mudah menyebarkan kekurangan orang lain, mulai sekarang belajarlah menutupinya.
Jika dahulu kita senang ikut dalam majelis ghibah, mulai sekarang tinggalkan majelis tersebut atau alihkan pembicaraan.
Karena seorang Muslim bukan hanya dituntut memperbanyak amal, tetapi juga menjaga agar amal tersebut tidak rusak oleh kezalimannya kepada manusia.
Jangan sampai kita datang kepada Allah dalam keadaan bangkrut. Kita tidak tahu berapa banyak pahala yang telah kita kumpulkan. Kita juga tidak tahu berapa banyak dosa yang telah kita lakukan. Tetapi kita mengetahui satu hal: setiap perkataan kita dicatat.Maka jangan remehkan satu kalimat. Jangan remehkan satu candaan. Jangan remehkan satu komentar. Jangan remehkan satu pesan WhatsApp. Jangan remehkan satu obrolan tentang kehormatan seorang Muslim. Bisa jadi satu kalimat yang kita anggap ringan menjadi perkara yang berat ketika berdiri di hadapan Allah.
Semoga Allah menjaga lisan kita dari ghibah, namimah, dusta, fitnah dan seluruh penyakit lisan. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!