Jum'at, 8 Safar 1448 H / 24 Juli 2026 05:13 wib
92 views
Sunnah Terlupa: Melihat ke Langit Saat Keluar Rumah
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam tercurah atas Rasulillah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam- dan keluarganya.
Hampir setiap pagi, kita keluar rumah untuk menjalani berbagai aktivitas seperti mencari rezeki, menuntut ilmu, berolahraga, maupun menunaikan kewajiban agama. Dalam ajaran Islam, setiap langkah seorang muslim sangatlah diperhatikan. Tidak hanya sekadar berjalan keluar pintu, namun juga diiringi dengan adab, etika, dan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Mungkin kita sudah sangat familiar dengan bacaan “Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah wa Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billah” saat keluar rumah. Namun, tahukah Anda bahwa terdapat sebuah sunnah tersembunyi yang hampir selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam setiap kali beliau melangkahkan kaki keluar dari kediaman, namun sayangnya sering kali terlupakan oleh umat Islam di zaman modern ini?
Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, salah satu istri Nabi yang merupakan saksi hidup dari kebiasaan beliau di rumah. Beliau menceritakan:
ما خرج النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم من بيتي قَطُّ إلا رفع طَرْفَه إلى السماءِ
"Tidak pernah sekalipun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat keluar dari rumahku kecuali beliau mengangkat pandangannya ke langit dan berdoa.”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, dari tergelincir (berbuat salah) atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dan dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan kebodohan."
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (No. 5094), An-Nasa'i (No. 5486), dan Ibnu Majah (No. 3884). Para ulama hadits, termasuk Ibnu Hajar dan Syekh Al-Albani, telah meneliti riwayat ini dan menyatakan bahwa hadits ini shahih.
Perhatikan ungkapan di awal hadits: "Tidak pernah sekalipun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat keluar dari rumahku kecuali beliau mengangkat pandangannya ke langit.” Ini menunjukkan bahwa amalan menatap langit saat keluar rumah bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah kebiasaan yang istiqomah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Makna Filosofis Menatap Langit
Mengapa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menatap langit sebelum membaca doa perlindungan? Ada dua makna filosofis yang sangat dalam dibalik gerakan fisik tersebut.
Pertama, menatap ke atas adalah bentuk pengakuan akan keesaan dan ketinggian Allah Ta'ala. Allah Ta'ala bersemayam di atas Arsy-Nya, jauh di atas langit. Seperti firman-Nya dalam Al-Qur'an, "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arasy." (QS. Taha: 5)
Kedua, mengangkat pandangan ke langit saat keluar rumah adalah untuk menghadirkan kesadaran spiritual (muraqabah). Seorang muslim diingatkan bahwa ia sedang berjalan di muka bumi di bawah pengawasan Allah yang berada di langit. Hal ini selaras dengan firman-Nya,
وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيْبًا
"Dan Allah Maha mengawasi segala sesuatu."
(QS. Al-Ahzab: 52). Dengan menyadari diawasi oleh Yang Maha Tinggi, seorang muslim akan lebih menjaga adab dan tindakannya saat keluar rumah.
Membedah Doa Perlindungan yang Komprehensif
Doa ini mencakup empat permohonan besar yang menjadi bekal seorang muslim ketika berinteraksi dengan dunia di luar rumah.
1. Memohon agar tetap berada di atas hidayah
أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ
”. . . . dari tersesat atau disesatkan . . . .” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan agar kita memohon perlindungan dari dua hal: jangan sampai diri kita tersesat, dan jangan pula menjadi penyebab orang lain tersesat.
Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak hanya bertanggung jawab atas keselamatan dirinya, tetapi juga harus berhati-hati agar ucapan, sikap, dan perbuatannya tidak menyesatkan orang lain. o aini juga mengajarkan kerendahan hati, karena hidayah adalah karunia Allah yang harus terus dimohonkan.
2. Memohon agar Dijauhkan dari kesalahan
أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ
“. . . . dari tergelincir (berbuat salah) atau digelincirkan, . . .” maknanya adalah memohon agar tidak tergelincir dalam dosa, kesalahan, atau keputusan yang keliru, serta tidak digelincirkan oleh orang lain.
Setiap hari seseorang menghadapi berbagai godaan dan ujian. Dengan doa ini, seorang muslim memohon agar Allah menjaga langkah-langkahnya sehingga tetap berada di jalan yang benar.
3. Memohon agar terhindar dari kezaliman
أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
“ . . . . , dari berbuat zalim atau dizalimi, . . . “ Doa ini mengajarkan keseimbangan. Kita memohon agar tidak berbuat zalim kepada siapa pun, sekaligus memohon perlindungan agar tidak menjadi korban kezaliman.
Seorang muslim tidak cukup hanya menghindari kezaliman, tetapi juga menggantungkan perlindungannya kepada Allah ketika menghadapi perlakuan zalim dari orang lain.
4. Memohon agar dijaga dari kebodohan
أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
“. . . dan dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan kebodohan . . . “ Yakni: Aku berlindung kepada-Mu agar tidak melakukan perbuatan orang-orang yang bodoh, seperti berakhlak buruk dan menyakiti manusia; atau agar tidak ada seorang pun yang melakukan perbuatan seperti itu kepadaku. Ada pula kemungkinan maknanya: Aku berlindung kepada-Mu agar tidak menjadi bodoh terhadap suatu urusan sehingga aku tidak mengetahuinya, atau agar tidak ada seorang pun yang mengajarkannya kepadaku.
Karena itu, kita memohon agar Allah menjaga lisan, sikap, dan emosi kita, sekaligus melindungi kita dari perlakuan buruk dan kebodohan orang lain.
Penutup
Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang terlihat sederhana ini mengajarkan kita tentang bagaimana seorang muslim seharusnya melangkah ke dunia luar.Menatap langit sejenak saat keluar rumah mengingatkan kita pada ketinggian Allah dan pengawasan-Nya.
Diiringi dengan doa perlindungan yang komprehensif ini maka kita agar kita melangkah dengan tawakal; berharap selamat dari berbagai marabahaya kesesatan, kezaliman, dan kebodohan. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!