Rabu, 26 Zulqaidah 1447 H / 13 Mei 2026 16:35 wib
130 views
Krisis Mental Menggerogoti Tentara Israel, Kasus Bunuh Diri Meningkat
GAZA, PALESTINA (voa-islam.com) - Di tengah agresi berkepanjangan yang terus menghantam Gaza dan mengguncang kawasan, retakan mulai tampak dari dalam tubuh militer Zionis Israel sendiri. Perang yang semula diklaim sebagai operasi pemulihan keamanan kini berubah menjadi beban psikologis yang menghantui para tentaranya.
Gejala krisis itu muncul bukan hanya dalam bentuk kelelahan tempur, tetapi juga meningkatnya gangguan mental dan kasus bunuh diri di kalangan prajurit. Fenomena ini berkembang perlahan namun konsisten, memperlihatkan bahwa perang panjang tidak hanya menghancurkan wilayah sipil Palestina, tetapi juga menggerogoti stabilitas internal pasukan Israel.
Di saat otoritas militer berusaha menekan pemberitaan dan membatasi publikasi data, berbagai laporan media serta kesaksian lapangan justru menunjukkan realitas yang berbeda. Tekanan psikologis akibat perang sejak 7 Oktober 2023 disebut terus menumpuk tanpa solusi nyata.
Surat kabar Haaretz dalam laporannya pada 26 April 2026 mengungkap adanya lonjakan kasus bunuh diri di tubuh militer Israel. Kondisi ini dinilai berkaitan erat dengan tekanan berat yang dialami tentara aktif maupun pasukan cadangan, di tengah keputusan politik dan militer yang terus memaksakan operasi tempur meski tanda-tanda kemerosotan internal semakin terlihat.
Menutupi Krisis dari Publik
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 10 tentara Israel bunuh diri sejak awal 2026. Enam di antaranya terjadi hanya dalam satu bulan. Angka ini memperpanjang tren peningkatan sejak perang meletus: 17 kasus pada 2023, lalu naik menjadi 21 kasus pada 2024, dan 22 kasus sepanjang 2025. Padahal dalam satu dekade sebelumnya, rata-rata tahunan berada di kisaran 12 kasus.
Namun angka resmi tersebut diyakini belum menggambarkan keseluruhan situasi. Data militer tidak memasukkan mantan prajurit yang mengakhiri hidup setelah keluar dari dinas. Hingga akhir 2025, militer Israel mengakui terdapat sedikitnya 15 kasus dalam kategori itu, sementara berbagai estimasi menyebut jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.
Haaretz juga menyoroti sikap militer Israel yang terus menahan publikasi data lengkap terkait kesehatan mental tentaranya. Permintaan resmi media itu sejak Juni 2025 disebut belum mendapat respons. Langkah tersebut dinilai memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk menyembunyikan dampak psikologis perang demi menjaga citra dan moral publik Israel.
Satu-satunya data yang sempat dipublikasikan menunjukkan lebih dari 7.200 tentara dan perwira diberhentikan selama tahun pertama perang karena alasan psikologis. Ribuan lainnya dipindahkan dari unit tempur akibat tekanan mental yang berat. Sejumlah perwira bahkan meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dipublikasikan.
Sumber internal dari departemen kesehatan mental militer mengakui bahwa skala krisis menjadi alasan utama kerahasiaan data tersebut. Dalih yang digunakan adalah menjaga “moral umum”, meski fakta di lapangan menunjukkan lonjakan besar permintaan layanan psikologis sejak perang dimulai.
Cadangan Militer Jadi Kelompok Paling Rentan
Pasukan cadangan disebut menjadi kelompok paling rentan dalam gelombang bunuh diri pada 2026. Mereka harus bolak-balik dari kehidupan sipil ke medan perang tanpa kesiapan mental yang memadai.
Kondisi ini diperparah oleh kebijakan militer yang sempat menghapus program pemulihan psikologis sebelum tentara kembali ke masyarakat sipil. Meski sebagian program kemudian dipulihkan, banyak tentara cadangan mengaku dipulangkan tanpa pemeriksaan mental maupun pendampingan profesional.
Laporan lain juga mengungkap adanya praktik pengerahan kembali tentara yang sebelumnya mengalami trauma psikologis. Mereka tetap dikirim ke medan tempur karena kekurangan personel, meski belum dinyatakan pulih secara mental.
Sejumlah pakar psikologi menilai fenomena ini tidak semata berkaitan dengan trauma perang biasa. Mereka memperkenalkan istilah “cedera moral” atau moral injury, yakni tekanan batin akibat keterlibatan dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai moral seseorang.
Psikolog Turki Asude Beyza Savaş menjelaskan bahwa kondisi tersebut muncul ketika individu terlibat atau menyaksikan tindakan yang dianggap melanggar nurani dan prinsip kemanusiaannya sendiri. Dalam konteks perang Gaza, konsep ini dinilai semakin relevan untuk memahami krisis psikologis yang melanda sebagian tentara Israel. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!