Rabu, 25 Rajab 1447 H / 14 Januari 2026 09:03 wib
162 views
UNICEF: Israel Bunuh Hampir 100 Anak Palestina
AMERIKA SERIKAT (voa-islam.com) - Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan sedikitnya 100 anak Palestina telah terbunuh sejak gencatan senjata mulai berlaku di Gaza pada Oktober 2025.
PBB menyebut serangan udara dan serangan darat Israel telah menewaskan sedikitnya 100 anak Palestina di Jalur Gaza yang terkepung sejak dimulainya gencatan senjata yang rapuh tiga bulan lalu.
Dalam pernyataan pada Selasa (13/1/2026), juru bicara badan anak-anak PBB (UNICEF), James Elder, mengatakan bahwa sedikitnya 60 anak laki-laki dan 40 anak perempuan telah tewas di wilayah Palestina tersebut sejak awal Oktober.
“Kami berada pada angka 100—tidak diragukan lagi. Itu berarti kira-kira seorang anak laki-laki atau perempuan terbunuh setiap hari selama masa gencatan senjata,” kata Elder, seraya menambahkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
Pejabat PBB itu lebih lanjut menyatakan bahwa anak-anak Palestina terbunuh “akibat serangan udara, serangan drone termasuk drone bunuh diri. Mereka terbunuh akibat tembakan tank. Mereka terbunuh akibat peluru tajam. Mereka terbunuh akibat quadcopter.”
Sementara itu, Zaher al-Wahidi, Direktur Departemen Komputer di Kementerian Kesehatan Gaza, melaporkan angka yang lebih tinggi, yakni 165 anak yang terbunuh selama masa gencatan senjata yang rapuh tersebut.
“Selain itu, tujuh anak meninggal dunia akibat paparan dingin sejak awal tahun ini,” tambah pejabat kesehatan tersebut.
Elder menegaskan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut terjadi setelah lebih dari dua tahun perang genosida, yang telah “membuat kehidupan anak-anak Gaza menjadi sangat sulit untuk dibayangkan.”
“Sebuah gencatan senjata yang memperlambat bom adalah sebuah kemajuan, tetapi gencatan senjata yang masih mengubur anak-anak tidaklah cukup.”
“Mereka masih hidup dalam ketakutan. Kerusakan psikologis tetap tidak tertangani, dan semakin dalam serta semakin sulit disembuhkan seiring berjalannya waktu,” tambahnya.
Pejabat PBB itu menyerukan agar Israel mengizinkan akses bantuan kemanusiaan yang lebih luas guna membantu warga Palestina bertahan menghadapi kondisi musim dingin yang keras.
“Ketika LSM-LSM kunci dilarang menyalurkan bantuan kemanusiaan dan memberikan kesaksian, serta ketika jurnalis asing dilarang masuk,” hal itu menimbulkan pertanyaan apakah tujuannya adalah “membatasi pengawasan terhadap penderitaan anak-anak,” ujar Elder.
Pada 1 Januari, Israel menangguhkan akses lebih dari tiga lusin lembaga bantuan internasional ke wilayah Palestina yang terkepung tersebut.
Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku, pasukan Israel telah melakukan ratusan pelanggaran, yang mengakibatkan tewasnya lebih dari 420 warga Palestina dan melukai hampir 1.200 lainnya.
Perjanjian gencatan senjata itu menyusul perang genosida Israel di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023 dan berlangsung lebih dari dua tahun.
Lebih dari 71.418 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 171.318 lainnya terluka sejak genosida tersebut dimulai. Serangan itu menyebabkan kehancuran luas, dengan sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza mengalami kerusakan. (ptv/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!