Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.233 views

Ashabul Kafe

SEBAGAIMANA kopi sudah banyak di-filosofi-kan oleh para bijak bestari, waktunya kini kafe juga didekati dengan kredo semacamnya. Karena yang tak kalah penting dari sekadar membidas penghuni tempat adalah membahas nilai yang melingkupi tempat itu sendiri. Kata Malik bin Nabi mensyarah filsafat manusia-nya: manusia bijak adalah mereka yang dapat leluasa “mendayagunakan tanah (turōb).. untuk dapat membangun visi- visi besarnya.”   

Jean Paul Sartre (1905- 1980)‒ seorang eksistensialis kenamaan dari Perancis‒ adalah salah satu yang memahami hakikat itu selagi dini. Setelah tempat cukur yang membuatnya menyadari wujud eksistensial ketampanannya yang dipantulkan kaca, celetukkan Raymond Aron‒ teman ngopinya‒ adalah yang seturutnya membuatnya ber-dahsyat untuk kali kesekiannya. Kata Raymond kepada Sartre sambil menunjuk gelasnya: “Jika Anda fenomenolog, seharusnya Anda bisa mem-filosofi-kan koktail ini.”  

Kalau bukan “lari dari sesuatu” orang- orang yang bersambang ke kafe memang “datang untuk sesuatu.” Sartre adalah yang terakhir. Ia datang ke kafe untuk mendayagunakan tanahnya‒ demi memupuk filosofinya  dalam diskusi- diskusi hangat. Bersama sahabat setianya, Simone de Beauvoir, Sartre bukan hanya bisa menghirup dengan bebas wewangian kopi. Di Kafe, ia bisa dengan bebas menertawakan ke-absurd-an orang- orang dengan pemaknaan sendiri‒ sambil tutup kuping mendengar diktum orang kebanyakan. 

Kafe memang adalah tempat yang pas dihuni oleh ragam orang yang mengusung pikiran. Nuansanya ragam, kafe tidak pernah memihak. Muda- mudi yang mendaras Das Kapital Karl Marx bisa duduk dengan tenang di pojok kanan. Di sebelahnya para Syabab pendamba khilafah sedang mengaji Nudzum Islamiyyah. Begitupun para kader Tarbiyah‒  syahdu mendengar wasiat amal murobbi-nya. Alih- alih saling menggulung, kutub- kutub pemikiran itu dapat bersila dengan nyaman dalam satu ruangan.

Seperti kopi yang tergolek di atas meja- meja kafe, begitupun pikiran yang berada di sana; semuanya ragam cita rasa. Yang suka Arabika tidak bisa menghakimi mereka para penikmat Robusta hanya karena benci kafein berlebih. Begitupun sebaliknya, para penyuka Robusta tak punya kuasa menghujat penikmat Arabika hanya karena benci kadar gula yang bergempita. Pada akhirnya di kafe, orang- orang yang terjangkit diabetes harus bertenggang rasa dengan para insomnia.       

Oleh karena suasana tenggang rasa itulah; menjajakkan pikiran di Kafe bisa jadi kesempatan yang amat menjanjikan. Revolusi kedai kopi adalah corak paling mendasar yang menggambarkan strategi para reformis (islāhi) seperti Malik bin Nabi dan Hasan al- Banna.  Benabi muda adalah sosialita di Ben Yaminah‒ sebuah kafe di jantung kota Tebessa. Lewat diskusi- diskusinya di sana, Benabi jadi bisa mengenal dialektika dua kutub sentral pemikiran yang hingga kini terus bergulat: konservatif dan progresif. 

Hasan al- Banna tidaklah jauh berbeda. Tentang kopi, di risalah-nya, secara metaforik ia mengutip perkataan Bernard Shaw yang mengesimpahkan betapa agungnya kepribadian Muhammad shalallahu alaihi wa sallam di matanya. Kata Bernard: “alangkah butuhnya dunia ini kepada seorang seperti Muhammad, yang dapat memecahkan berbagai persoalan pelik sembari meneguk secangkir kopi.”Tak ayal, al- Banna terlihat begitu yakin memulai dakwahnya dengan meneroka kedai- kedai kopi seantero Kairo.

Di tengah arus budaya pop yang tak berkesudahan, romantisisme tumbuh subur meninabobokan pikiran cemerlang persona di dunia. Muda- mudi yang harusnya digelorakan dengan tradisi ilmu pengetahuan, malah digiring untuk selalu jadi korban perasaan. Jika alur seperti ini terus dipertahankan, jangan heran kalau anak- anak peradaban Islam akan akrab berakhir seperti Werther di novelnya Goethe‒ yang bunuh diri sebatas karena pupus harapan menjejaki hubungan percintaan.  

Persona- persona Islam harus kembali mencari gua- guanya seperti para ashabul kahfi yang pergi untuk menyelamatkan iman. Bukan hanya perasaan, para persona itu juga harus diarahkan untuk menyelamatkan akal budi mereka. Karena kebenaran hari ini adalah yang konsisten masuk di akal. Kenyataan seperti itu tak mungkin digapai kecuali dengan menyatukan pikiran dalam diskusi- diskusi sengit meloloskan dalil. Kafe boleh jadi adalah tempat yang pas menyediakan suasana semacam itu.      

Kafe adalah gua- gua baru tempat para persona menilik ragam permasalahannya. Bukan hanya sekadar ditangisi kemudian dilupakan, permasalahan dunia Islam yang disajikan di meja- meja kafe haruslah mendalam pantang hanya mengawang di permukaan. Kalau para gagak putih itu belum juga ketemu, arahkan mereka paling tidak untuk pantang pulang nir- kesimpulan. Camkan kata Galileo: “ukurlah yang dapat diukur, dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur.”

Kholaf bin Mutsanna pernah bersaksi: “kami telah melihat sepuluh orang berkumpul di Bashrah dalam sebuah majlis yang tidak pernah terjadi di dunia.” Jika majlis itu terlahir kembali, meja jenjang di kafe boleh jadi adalah yang mempersuakan kembali mereka. Sambil menyeruput aneka rasa shisha, seorang syiah beradu syair dengan kerabat sunni di sebelahnya. Pemuda Yahudi asyik bercengkarama dengan sejawatnya yang Nashrani. Saking asyiknya, mereka sampai lupa mempermasalahkan perbedaan curam yang melingkupi mereka.

Di kafe, perbedaan curam memang melarut seperti gula di pusaran secangkir teh. Semua diputuskan dengan sehat lewat dialog. Kafe menggambarkan betul apa yang Muhammad Khatami‒ mantan presiden Iran‒ tuliskan di bukunya The Dialog of Civilizations. Di sana ia berterus terang mengungkapkan kegembiraannya bisa duduk membersamai mahasiswa. “Semua urusan selalu dikembalikan pada aktivitas diskusi, menyimak, dan memahamkan,”begitu dedas Khatami‒ kagum. 

Jika Sartre menemukan ketampanannya yang  eksistensial hanya dengan memaku pandangan di cermin, persona Islam harusnya bisa lebih dalam memahami itu selagi dulu. "Hāsibū anfusakum qabla an tuhāsabū."" Rajin- rajin bercermin untuk memerhati kekurangan diri adalah wasiat Umar bin Khattab untuk persona Islam jauh- jauh hari. Mungkin, masalahnya terletak saat kekurangan- kekurangan itu samar dicarap; karena persona Islam rabun menengarai aibnya yang direfleksikan kaca.

Bercermin di derasnya air yang mengalir memang lebih sulit ketimbang di air yang tenang. Di helaan kebisingan politik ibu kota, para persona memang sudah selayaknya sesekali memancangkan kaki ke sudut- sudut warung kopi. "Saya minum (kopi), maka saya ada", Roger Secruton saja sampai berani menyelewengkan kata Descartes yang satu ini demi meyakinkan pembacanya. Ragam masalah eksistensial diri memang terkadang harus diselesaikan dengan tenang sambil menyilang kaki─ menyeruput secangkir kopi. Allahu a’lam.*

Faris Ibrahim

Mahasiswa jurusan Aqidah- Filsafat Universitas al- Azhar Kairo

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Lengkap sudah ujian hidup remaja yatim asal Indramayu ini. Terlahir yatim sejak balita, ia dibesarkan tanpa belaian kasih ayah dan ibu. Kini di usia remaja, ia diuji dengan penyakit tumor ganas...

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Latest News
Muhammadiyah Gelar Anugerah Jurnalistik Fachrodin Award 2020

Muhammadiyah Gelar Anugerah Jurnalistik Fachrodin Award 2020

Rabu, 19 Feb 2020 04:58

Kerudungin Kepala Dulu atau Hati Dulu?

Kerudungin Kepala Dulu atau Hati Dulu?

Rabu, 19 Feb 2020 03:21

Fahira Nilai Omnibus Law Bentuk Frustasi Pemerintah atas Mandeknya Ekonomi

Fahira Nilai Omnibus Law Bentuk Frustasi Pemerintah atas Mandeknya Ekonomi

Rabu, 19 Feb 2020 02:44

Kemuliaan Seorang Ibu

Kemuliaan Seorang Ibu

Rabu, 19 Feb 2020 01:53

PKS Minta Peran Kelembagaan Batan Diperkuat

PKS Minta Peran Kelembagaan Batan Diperkuat

Rabu, 19 Feb 2020 00:53

Tak Dilibatkan Bahas RUU Ciptaker, AJI: Mau Buat UU Apa Konspirasi Kejahatan?

Tak Dilibatkan Bahas RUU Ciptaker, AJI: Mau Buat UU Apa Konspirasi Kejahatan?

Selasa, 18 Feb 2020 23:58

Hadits

Hadits "Tidak Ada Penularan Penyakit", Apa Maksudnya?

Selasa, 18 Feb 2020 23:39

Solusi Islam Cegah Perselingkuhan

Solusi Islam Cegah Perselingkuhan

Selasa, 18 Feb 2020 22:45

Turki Keluarkan Surat Perintah Penangkapan untuk 700 Orang Terkait Fetullah Gulen

Turki Keluarkan Surat Perintah Penangkapan untuk 700 Orang Terkait Fetullah Gulen

Selasa, 18 Feb 2020 21:00

Hampir 1 Juta Orang Mengungsi Sejak Rezim Assad Meluncurkan Ofensif Idlib Bulan Desember

Hampir 1 Juta Orang Mengungsi Sejak Rezim Assad Meluncurkan Ofensif Idlib Bulan Desember

Selasa, 18 Feb 2020 20:30

Pemimpin Oposisi Sudan: Normalisasi dengan Penjajah Israel Adalah Tindakan Penghianatan

Pemimpin Oposisi Sudan: Normalisasi dengan Penjajah Israel Adalah Tindakan Penghianatan

Selasa, 18 Feb 2020 20:01

Sebut Agama Musuh Terbesar Pancasila, Pernyataan Kepala BPIP Menyesatkan

Sebut Agama Musuh Terbesar Pancasila, Pernyataan Kepala BPIP Menyesatkan

Selasa, 18 Feb 2020 18:42

Aborsi: Komplikasi Kronis Kapitalisme-Sekuler

Aborsi: Komplikasi Kronis Kapitalisme-Sekuler

Selasa, 18 Feb 2020 18:41

Salah Urus

Salah Urus

Selasa, 18 Feb 2020 18:40

Universitas Muhammadiyah Surabaya Jadi Sponsor Persebaya Musim Ini

Universitas Muhammadiyah Surabaya Jadi Sponsor Persebaya Musim Ini

Selasa, 18 Feb 2020 17:00

Sekolah yang Tak Mendidik

Sekolah yang Tak Mendidik

Selasa, 18 Feb 2020 16:29

Bayar SPP Pakai GoPay, Said Didu Ingatkan Nadiem Makarim Soal Korupsi

Bayar SPP Pakai GoPay, Said Didu Ingatkan Nadiem Makarim Soal Korupsi

Selasa, 18 Feb 2020 16:11

Banjir DKI Kok Surveinya Di 34 Provinsi, Pasti Ngawur!

Banjir DKI Kok Surveinya Di 34 Provinsi, Pasti Ngawur!

Selasa, 18 Feb 2020 15:00

Kepala BPIP Ditantang Debat Terbuka Majelis Mujahidin

Kepala BPIP Ditantang Debat Terbuka Majelis Mujahidin

Selasa, 18 Feb 2020 14:57

Liberalisasi Suburkan Bisnis Ngeri (Klinik Aborsi)

Liberalisasi Suburkan Bisnis Ngeri (Klinik Aborsi)

Selasa, 18 Feb 2020 12:34


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X