Rabu, 26 Rabiul Awwal 1448 H / 9 September 2026 16:20 wib
96 views
GENAP Bekali Santri Assuryaniyyah Hadapi Ancaman LGBT
BEKASI (voa-islam.com) —Derasnya arus informasi digital membuat generasi muda menghadapi tantangan pergaulan yang semakin kompleks. Persoalan LGBTQ, perilaku seksual berisiko, hingga pengaruh media sosial menjadi perhatian dalam Seminar dan Dialog Santri yang digelar Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual (GENAP) di Pondok Pesantren Assuryaniyyah, Mustika Jaya, Kota Bekasi, Rabu (9/9/2026).
Mengusung tema “Cegah LGBTQ, Lindungi Masa Depanmu sebagai Generasi Tangguh dan Bermartabat”, kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus dialog terbuka bagi para santri untuk memahami tantangan generasi muda dari perspektif agama dan kesehatan.
Seminar menghadirkan Ustaz Fadhlin NR dari Bidang Dakwah dan Komunikasi Antar Masjid dan Sekolah (DKMS) serta praktisi kesehatan dr. Reno Yovial. Dialog dipandu H. Dhany Wahab.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Ketua GENAP Ustaz Verry Koestanto, Ustaz Wahyudin dari Persada 212, dan Ustaz Ismail Ibrahim, Ketua Sahabat MUI Kota Bekasi.
Santri Tak Cukup Hanya Diberi Nasihat
Pembina GENAP Ustaz Verry Koestanto menilai tantangan yang dihadapi anak-anak dan remaja saat ini tidak bisa dijawab hanya dengan nasihat. Mereka membutuhkan pengetahuan, pendampingan, sekaligus kemampuan menyaring informasi yang mereka temukan di dunia digital.
Menurutnya, media sosial telah membuat berbagai informasi mengenai seksualitas, pergaulan, dan identitas sangat mudah diakses anak-anak.
Karena itu, GENAP mendorong agar edukasi kepada generasi muda dilakukan secara terbuka dan terarah.
“Kami terus menggerakkan, memberikan pemahaman kepada para santri dan anak-anak sekolah, sehingga kita bisa memberikan pemahaman yang lebih baik,” ujar Verry.
Antusiasme santri dalam sesi dialog juga dinilai menunjukkan bahwa mereka membutuhkan ruang untuk bertanya dan memperoleh penjelasan yang benar.
“Banyak pertanyaan yang disampaikan para santri. Ini menunjukkan bahwa mereka membutuhkan informasi dan pendampingan, bukan hanya nasihat,” katanya.
Materi yang dibahas mencakup pandangan agama terhadap LGBTQ, risiko perilaku seksual berisiko, penyakit menular seksual, serta pentingnya iman dan karakter dalam menghadapi tekanan lingkungan dan perkembangan zaman.
Orang Tua Jangan Sampai Ketinggalan
Verry menegaskan, upaya membentengi generasi muda tidak bisa hanya dibebankan kepada pesantren atau sekolah. Keluarga harus menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
GENAP, kata dia, berencana melibatkan wali santri dan wali murid dalam kegiatan-kegiatan berikutnya.
“Ke depan kami ingin wali santri dan wali murid juga diundang. Jangan sampai anak mendapatkan informasi dari satu sisi, sementara orang tua tidak mengetahui apa yang sedang mereka hadapi,” ujarnya.
Menurutnya, kesamaan pemahaman antara anak, orang tua, sekolah, dan pesantren sangat penting agar pendampingan terhadap generasi muda tidak berjalan sendiri-sendiri.
Selain isu seksual dan LGBTQ, seminar juga menyinggung tantangan lain di era digital, seperti penggunaan media sosial, judi online, dan game online yang dapat memengaruhi kehidupan serta perkembangan remaja.
Diawali Salat Istisqa
Sebelum seminar berlangsung, rangkaian kegiatan diawali dengan salat Istisqa untuk memohon hujan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di tengah kondisi kemarau.
Ustaz Ismail Ibrahim dipercaya menyampaikan khutbah dalam salat tersebut. Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan seminar dan dialog bersama para santri.
Rangkaian kegiatan itu menjadi pengingat bahwa pembinaan generasi tidak cukup dilakukan dengan pendekatan satu sisi. Iman, ilmu, kesehatan, komunikasi keluarga, dan lingkungan yang baik harus berjalan bersama.
Membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif bukan berarti menutup mereka dari perubahan zaman. Justru, mereka perlu dipersiapkan agar mampu menghadapi derasnya informasi dengan iman yang kokoh, ilmu yang benar, karakter yang kuat, dan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Jika keluarga, pesantren, sekolah, dan masyarakat mampu berjalan bersama, generasi muda tidak akan dibiarkan menghadapi derasnya arus digital seorang diri. [PurWD/dbs/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!