Sabtu, 6 Rabiul Akhir 1448 H / 19 September 2026 16:18 wib
120 views
Akmal : Beriman Saja Tidak Cukup Untuk Melawan Ghazwul Fikri
JAKARTA (voa-islam.com) - Sekolah Pemikiran Islam (SPI) menggelar pertemuan keduanya pada Rabu (16/09/2026), di Gedung INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) yang terletak di bilangan Jakarta Selatan. Pertemuan tersebut mengupas tentang perang pemikiran atau yang dikenal dengan istilah ghazwul fikri.
Materi disampaikan oleh Akmal Sjafril, Kepala SPI Pusat sekaligus pendiri Yayasan Cendekia Pemimpin Zaman. Lulusan Teknik ITB yang kemudian meraih gelar Doktor Sejarah dari Universitas Indonesia ini dikenal sebagai peneliti INSISTS dan aktivis gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Di sela kesibukannya, bapak dua anak ini menaruh perhatian besar pada isu-isu pemikiran Islam kontemporer.
Dalam paparannya, Akmal menjelaskan bahwa ghazwul fikri tidak sama dengan teori konspirasi. “Ghazwu artinya perang dan fikri artinya pemikiran. Sewajarnya, ketika dalam keadaan perang, akan ada konfrontasi yang mengharuskan kita siap memberikan perlawanan. Yang kedua, ada perencanaan—di situlah bedanya perang dengan tawuran. Tujuan dari itu semua adalah penaklukan,” ujarnya.
Menurutnya, tema ghazwul fikri berbeda dengan kajian pada umumnya. Jika kajian biasa membuat hati semakin tenang, kajian ghazwul fikri justru membuat hati semakin khawatir. Sebab, dalam menghadapinya, keimanan saja tidak cukup; keilmuan pun sangat dibutuhkan.
Ia mengibaratkannya dengan Perang Uhud. Ketika sebagian umat Islam tidak mengikuti strategi perang yang telah Rasulullah siapkan, pasukan lawan melihat celah itu dan menyusun siasat untuk mengepung kaum muslimin, hingga akhirnya kaum muslimin pun mengalami kekalahan. “Ghazwul fikri akan dimenangkan oleh orang yang lebih berilmu,” tandasnya.
Akmal juga memaparkan sejumlah pertanyaan dan pernyataan sederhana yang mampu memengaruhi akidah seseorang, seperti “kalau Tuhan itu ada, mengapa masih ada kezaliman?”, “semua agama mengajarkan kebaikan”, atau “Tuhan tidak perlu dibela”. Kalimat-kalimat semacam itu sekilas tampak masuk akal, padahal sesungguhnya keliru, dan orang yang tidak berbekal ilmu akan mudah terperangkap olehnya, tuturnya.
Ia lalu menyebutkan sejumlah sarana penyebaran ghazwul fikri yang paling masif. Pertama, media—misalnya pemberitaan tragedi WTC atau yang dikenal sebagai Serangan 11 September, ketika media langsung menyimpulkan bahwa kejahatan tersebut merupakan aksi terorisme oleh orang muslim. Kedua, melalui pendidikan. Ketiga, melalui hiburan.
Sementara itu, Adzkia, salah seorang peserta kelas SPI asal Lampung, mengungkapkan bahwa dampak ghazwul fikri telah ia rasakan sejak kecil. Dahulu, menurutnya, segala hal tentang Barat terkesan keren dan bagus, sementara yang berbau Islam dianggap sebaliknya. “Padahal, faktanya, superhero di Barat itu fiksi, sedangkan dalam Islam, sosok pahlawan itu nyata,” pungkasnya. (Aqilla Nurul Azizah/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!