Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.296 views

Riau-1, Sofyan Basir, dan Pesta yang Dipaksa Usai

 
Oleh:
 
Erwin Maulana
 
 
Pemerhati listrik dan energi
 
 
DRAMA persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) untuk kasus PLTU Riau-1 tampaknya belum segera berakhir. Dirut PPT PLN (Persero) Sofyan Basir, tiap Senin masih bolak-balik meghadiri sidang sebagai terdakwa. Kira-kira, bakal seperti apa akhir dari lakon ini?
 
Sebetulnya banyak fakta yang terungkap dari persidangan. Setelah berputar dari satu pasal ke pasal lain, dakwaan akhirnya dikerucutkan pada peran SB yang memfasilitasi sejumlah pertemuan para pihak terkait. Mereka yang dimaksud ini adalah pengusaha Johanes B. Kotjo, Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI Eni Maulani Saragih, Bendahara Umum Golkar yang juga Menteri Sosial Idrus Marham, dan tim PLN.
 
Di persidangan terungkap, ada 11 kali pertemuan yang ‘difasilitasi’ SB terkait PLTU Mulut Tambang Riau-1. Jaksa Penutut Umum (JPU) menjadikan 11 kali pertemuan ini sebagai pintu masuk untuk menjerat Sofyan. Alasannya, dari rentetan pertemuan itulah lahir fee Rp 4,7 miliar untuk Eni dan Idrus.
 
Namun menurut Kotjo, pertemuan berulang kali itu adalah hal yang lumrah, terutama karena skala proyek yang cukup besar. Sebagai pengusaha Kotjo berpendapat mustahil untuk proyek senilai US$1 miliar bisa dituntaskan hanya dalam 1-2 kali pertemuan. Dengan belasan kali pertemuan pun, lanjut dia, belum tentu selesai jika berbagai persyaratannya tidak dipenuhi.
 
Pengadilan maraton yang digelar mengungkap sejumlah fakta penting. Antara lain, dalam kapasitasnya sebagai Dirut PLN, ternyata SB bukan tipe pejabat gampangan. Hal ini diakui Kotjo yang menyatakan, kendati telah dikenalkan oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR yang biasanya punya taji, SB tidak otomatis jadi lunak. Kotjo tetap dihadapkan sejumlah persyaratan yang susah dipenuhi.
 
 
Tidak Bisa Dinego
 
Menariknya dari rangkaian pertemuan ini, di persidangan Kotjo justru punya kesan positif terhadap mantan bankir tersebut. Menurut dia, SB ternyata profesional. Pasalnya, harga yang menurut Kotjo sudah rendah masih ditawar lagi oleh SB. Jadi, memang SB susah, tidak bisa dinego.
 
Pernyataan Kotjo di pengadilan soal harga jual listrik yang masih ditawar ini mengingatkan kita kepada Rizal Ramli. Saat menjadi Menko Ekuin (2000-2001), dia menemukan hampir semua kontrak pembelian listrik swasta ternyata dimark-up. Angkanya tidak tanggung-tanggung, 7-12 cent dolar/kWh. Padahal saat itu di seluruh dunia harga listrik hanya 3 cent dolar.
 
Praktik ini terjadi karena pengusaha memberi saham kosong kepada para pejabat untuk ditukar dengan tarif yang sangat mahal. Akibatnya, beban utang PLN jadi sangat tinggi, mencapai US$85 miliar. PLN nyaris bangkrut.
 
Penyelesaian lewat arbitrase internasional hanya menghasilkan kekalahan bagi PLN dan negara. Itulah sebabnya RR, sapaan akrab tokoh nasional ini, menggunakan cara lain. lewat kawannya di harian The Wall Street Journal, dia mengungkap pat-gulipat tersebut di halaman satu harian bisnis paling berpengaruh itu selama tiga hari berturut-turut.
 
Akibatnya, para bos perusahaan asing berbondong terbang ke Jakarta. Mereka ingin merenegosiasi dengan sang Menko Ekuin. Hasilnya, utang PLN yang sebelumnya US$85 miliar, langsung melorot menjadi tinggal US$35 miliar. Dengan menggunakan cara-cara out the box, RR berhasil menyelamatkan PLN hingga US$50 miliar!
 
 
Untungkan PLN
 
Kembali ke soal PLTU Mulut Tambang Riau-1. Sebetulnya, 11 kali pertemuan tadi tidak melulu membahas soal harga jual PLTU kepada PLN. Tapi juga ada pembahasan menyangkut komposisi saham cucu perusaaan PLN dan PT Samantaka Batubara, anak perusahaan Blakgold Natural Resources milik Kotjo  yang _listing_ di bursa saham Singapura. SB menghendaki saham PLN sebesar 51%. Tapi meski mayoritas, dia hanya mau menyetor dana 10% saja. Sisanya yang 41% diperoleh hasil pinjaman dari Samantaka. Satu lagi, syaratnya pinjaman tadi harus murah. Bunganya 4,125% alias sama dengan _global bond_ yang biasa PLN terbitkan.
 
Materi pembahasan dari pertemuan berseri itu juga menyangkut masa kontrol PLTU. Kotjo mengajukan 20 tahun. Tapi SB ngotot 15 tahun. Setelah itu PLTU akan jadi milik PLN. Kalau pengusaha tidak setuju, lebih baik mencari mitra lainnya saja.
 
Jadi, rangkaian pembahasan 11 kali pertemuan itu sebenarnya menghasilkan hal-hal postitif dan menguntungkan bagi PLN. Pertama, saham yang dikantongi mayoritas, yaitu 51%. Sebagai pemegang saham, apalagi mayoritas, PLN berhak menempatkan direksi untuk mengontrol. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Yang sudah-sudah, PLN benar-benar hanya berfungsi sebagai pembeli alias off taker dari listrik yang dihasilkan Independent Power Producer (IPP).
 
Keuntungan kedua, jumlah dana yang disetor PLN untuk penguasaan saham 51% hanya 10%. Ini jelas sangat mengtungkan bagi arus kas perusahaan. Ketiga, PLN dapat pinjaman dana murah untuk menutup 49% saham sisanya. Keempat, PLN punyak hak penuh atas PLTU Riau-1 pada 15 tahun ke depan.
 
Bagaimana dengan fee dari Kotjo yang diterima Eni dan Idrus? Apakah SB juga kecipratan hal serupa? Berdasarkan keterangan Eni dan Kotjo di pengadilan, tidak ada satu pun yang mengarah apalagi membenarkan SB menerima fee. Lagi pula, logikanya, kalau memang dia menerima fee, buat apa pula harus ada pertemuan hingga 11 kali. Itu pun, kata Kotjo, belum tuntas juga. Bukankah perkaranya jadi mudah, karena sejak awal Sofyan sudah bisa diajak cincai?
 
Sofyan sendiri menyatakan tidak mengetahui ihwal fee tersebut, karena soal ini merupakan pembicaraan antara Kotjo dan Eni. Bahkan, ketika menyerahkan fee kepada Eni, Kotjo mengaku tidak ada pernyataan dari Eni, bahwa sebagian uang itu akan diserahkan kepada SB. Kotjo juga mengatakan, memberi uang kepada Eni untuk munas Golkar dan untuk Pilkada suaminya, tidak ada hubungannya dengan Proyek PLTU Riau 1.
 
Tentang permintaan SB agar Kotjo memperhatikan anak-anak (pegawai PLN) yang disebut Eni, pun jadi mentah di pengadilan. Faktnya, Kotjo tidak pernah mengkonfirmasi kepada Sofyan WA yang disampaikan oleh Eni yang berisi tentang anak-anak SB diperhatikan.  Kotjo juga tidak pernah mengkonfirmasi SB tentang WA dari Eni terkait kalimat the best. Artinya, validitas permintaan yang seolah-olah dari SB ini sangat patut dipertanyakan. Bukan mustahil semua itu hanya sepihak dari Eni.
 
Tapi, sayang sekali skema bisnis yang menguntungkan PLN ini jadi buyar. PLN membatalkan penujukan PT Pembangkitan Jawa Bali (anak perusahaan PLN) sebagai pelaksana pembangunan PLTU Riau-1 begitu kasus hukumnya terkuak. Namun sebagai proyek, PLTU Riau-1 tetap masuk dalam RUPTL 2012-29021. Ihwal pembatalan ini, di persidangan Kotjo mengaku _gelo_ alias kecewa. Wajarlah, dia sudah menghabiskan banyak waktu dan biaya, namun proyek gagal diraih.
 
 
Sasaran Tembak
 
Pertanyaannya, bagaimana mungkin sosok SB yang terbukti berpikir dan bertindak out the box, menguntungkan PLN serta punya integritas karena tidak bisa dinego, kok bisa jadi pesakitan di pengadilan?
 
Bisnis PLN bernilai puluhan miliar hingga triliunan rupiah. Seperti diungkap RR, banyak pat-gulipat terjadi antara pengusaha dan oknum penguasa. Selama ini mereka menikmati pesta pora yang terus berlangsung. Integritas Sofyan jelas mengganggu kenyamanan mereka. Apalagi, sejak awal didapuk jadi nakhoda PLN  dia sudah menyatakan, pesta telah usai. Selanjutnya PLN hanya bisa menyediakan makan pagi, makan siang, dan makan malam biasa. Bukan pesta pora! Silakan berbisnis dengan PLN, tapi keuntungannya wajar-wajar saja.
 
Sikap SB ini tentu saja membuat marah banyak orang. Kalau bisa dan terbiasa berpesta, kenapa harus puas dengan makan biasa? Celakanya, bisnis setrum yang rupiahnya selalu dalam jumlah jumbo bahkan suprejumbo, sering melibatkan orang kuat. Mereka adalah para pejabat publik atau mantan pejabat yang punya taji tajam.
 
Pada konteks ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik 35.000 MW, porsi PLN memang cuma 10.000 MW. Sisanya yang 25.000 MW dikerjakan oleh swasta. Di era Sofyan, bisnis PLN dengan IPP banyak menggunakan pola sama dengan Blackgold. Dia hanya mau PLN menjadi pembeli jika polanya seperti tadi.
 
Akibatnya banyak pihak yang berang bukan-alang kepalang. Sebagai orang kuat, mereka bisa melakukan apa saja untuk membidik SB. Sampai di sini kita jadi paham. Sofyan punya banyak musuh. Dia jadi sasaran tembak. Oleh siapa? Tahulah kita.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Sudah 13 tahun mushalla ini menjadi sentral dakwah di kampung Gunung Sri, Tasikmalaya. Namun mushalla ini belum memiliki alat pengeras suara. Diperlukan dana 5 juta rupiah. Ayo Bantu....

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Latest News
Politisi Golkar: Larangan Mudik Harus Sertakan Sanksi

Politisi Golkar: Larangan Mudik Harus Sertakan Sanksi

Kamis, 02 Apr 2020 08:30

Saleh Daulay: PSBB Belum Tentu Berjalan Efektif

Saleh Daulay: PSBB Belum Tentu Berjalan Efektif

Kamis, 02 Apr 2020 07:46

Nasir Djamil Apresiasi Pemulangan Tujuh TKA China di Aceh

Nasir Djamil Apresiasi Pemulangan Tujuh TKA China di Aceh

Kamis, 02 Apr 2020 06:55

Corona dan Status Darurat Kesehatan

Corona dan Status Darurat Kesehatan

Kamis, 02 Apr 2020 04:50

Angka Kematian Corona di DKI Tertinggi, DPRD Heran Pemerintah Pusat Tolak Karantina Wilayah

Angka Kematian Corona di DKI Tertinggi, DPRD Heran Pemerintah Pusat Tolak Karantina Wilayah

Kamis, 02 Apr 2020 01:21

Keimanan dan Kemanusiaan

Keimanan dan Kemanusiaan

Rabu, 01 Apr 2020 23:43

Gugur di Medan Juang

Gugur di Medan Juang

Rabu, 01 Apr 2020 22:48

Saudi Akan Bangun Ruang Karantina Raksasa untuk Isolasi Pesien Terinfeksi Corona dalam Sepekan

Saudi Akan Bangun Ruang Karantina Raksasa untuk Isolasi Pesien Terinfeksi Corona dalam Sepekan

Rabu, 01 Apr 2020 22:25

Delegasi Taliban Berada di Kabul untuk Memulai Proses Pertukaran Tahanan dengan Pemerintah

Delegasi Taliban Berada di Kabul untuk Memulai Proses Pertukaran Tahanan dengan Pemerintah

Rabu, 01 Apr 2020 22:06

Menguji Relevansi PSBB dan Darurat Sipil di Tengah Ancaman Corona

Menguji Relevansi PSBB dan Darurat Sipil di Tengah Ancaman Corona

Rabu, 01 Apr 2020 21:56

Tips Cermat Antisipasi Hoaks tentang Virus Corona di Internet

Tips Cermat Antisipasi Hoaks tentang Virus Corona di Internet

Rabu, 01 Apr 2020 20:46

Masyarakat Harus Sabar untuk Tinggal di Rumah Selama Pencegahan Wabah Virus Corona

Masyarakat Harus Sabar untuk Tinggal di Rumah Selama Pencegahan Wabah Virus Corona

Rabu, 01 Apr 2020 20:25

Musibah Tanda Allah Menginginkan Kebaikan

Musibah Tanda Allah Menginginkan Kebaikan

Rabu, 01 Apr 2020 20:11

Menguji Peran Madrasatul Ula di Musim Pandemi

Menguji Peran Madrasatul Ula di Musim Pandemi

Rabu, 01 Apr 2020 19:45

Mengkudeta Anies Baswedan?

Mengkudeta Anies Baswedan?

Rabu, 01 Apr 2020 18:02

Fenomena Mudik di Tengah Sebaran Wabah Corona

Fenomena Mudik di Tengah Sebaran Wabah Corona

Rabu, 01 Apr 2020 17:30

Minimalisir Penularan, 1 Unit Chamber Anti Covid-19 Terpasang di RSUD Haji Sulawesi Selatan

Minimalisir Penularan, 1 Unit Chamber Anti Covid-19 Terpasang di RSUD Haji Sulawesi Selatan

Rabu, 01 Apr 2020 17:20

Update 1 April 2020 Infografik Covid-19: 1677 Positif, 103 Sembuh, 157 Meninggal

Update 1 April 2020 Infografik Covid-19: 1677 Positif, 103 Sembuh, 157 Meninggal

Rabu, 01 Apr 2020 17:04

Jokowi Siapkan RS Khusus Corona di Pulau Galang, Fadli: Bagimana Cara Pasien ke Sana?

Jokowi Siapkan RS Khusus Corona di Pulau Galang, Fadli: Bagimana Cara Pasien ke Sana?

Rabu, 01 Apr 2020 16:39

Hadapi Corona, Muhaimin Iskandar Ingatkan Pemerintah Tidak Berutang ke Luar Negeri

Hadapi Corona, Muhaimin Iskandar Ingatkan Pemerintah Tidak Berutang ke Luar Negeri

Rabu, 01 Apr 2020 15:43


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X